Jakarta -
Langit Jakarta belum sepenuhnya gelap ketika dentuman pertama mulai terasa, tetapi energi di kawasan NICE PIK 2 sudah seperti klimaks konser.
Hammersonic 2026 tidak sekadar kembali, melainkan datang dengan perayaan satu dekade yang terasa brutal, emosional, dan penuh adrenalin sejak menit awal.
Ravel Entertainment membawa tajuk Decade of Dominion sebagai penanda perjalanan 10 tahun festival metal terbesar di Asia Tenggara.
Hari pertama yang digelar pada 2 Mei 2026 langsung membuktikan satu hal bahwa Hammersonic bukan hanya festival, tetapi ruang pelampiasan energi ribuan penonton yang sudah menunggu momen ini sejak lama.
Sejak pukul 13.00 WIB, arus manusia mulai memenuhi area festival. Hujan pun tidak menghentikan deretan band internasional seperti Cloath, Crystal Lake, dan Lich King untuk langsung menghajar telinga penonton.
Setiap riff dan teriakan seperti pemanasan menuju kekacauan yang lebih besar.
Memasuki senja, atmosfer berubah menjadi lebih gelap dan intens. Eye Hate God naik ke panggung membawa nuansa sludge metal yang berat dan depresif.
Riff mereka terasa menghantam pelan namun dalam, seperti gelombang yang menarik penonton semakin masuk ke dalam pusaran musik keras.
Hammersonic 2026/ Foto: Insertlive
Momentum kemudian meledak tanpa jeda ketika Speed, unit hardcore asal Sydney, mengambil alih panggung.
Tanpa basa-basi, mereka langsung menggeber lagu-lagu cepat yang membuat crowd berubah menjadi lautan moshpit.
Energi terasa liar, tak terkontrol, tetapi justru itulah esensi hardcore yang dicari para penonton.
Salah satu momen paling ikonik terjadi ketika vokalis Jem Siow memainkan flute dalam pembuka lagu The First Test.
Aksi itu terasa kontras namun justru memperkuat karakter unik Speed di tengah kerasnya musik yang mereka bawa.
Lagu Don't Need menjadi titik di mana kerumunan benar-benar pecah. Tubuh-tubuh saling bertabrakan, tangan terangkat, dan teriakan menyatu dengan distorsi gitar.
Jem kemudian mencoba mendekatkan diri dengan penonton menggunakan bahasa Indonesia yang sederhana namun terasa tulus.
"Halo Jakarta, apa kabar? Kami pertama kali ke sini 3 tahun lalu," ucap Jem.
"Kami melihat ribuan orang di sini, kami sudah main ke Amerika, UK, tapi Indonesia Hardcore, Jakarta Hardcore, sangat luar biasa," lanjutnya.
Interaksi itu justru semakin membakar semangat penonton. Speed terus menekan tanpa memberi ruang bernapas lewat lagu seperti Not That Nice, Real Life Love, We See You, hingga Peace.
"Kalian senang, enak? Haha aku mencoba sebisaku berbahasa Indonesia, terima kasih," kata Jem menutup set mereka.
Hammersonic 2026/ Foto: Insertlive
Setelah ledakan hardcore, nuansa bergeser ke metalcore modern saat Of Mice and Men naik panggung.
Band asal California ini langsung membawa penonton bernyanyi bersama melalui lagu seperti Obsolete, Flowers, dan Feels Like Forever.
Suara Aaron Pauley menggema, berpadu dengan riff agresif yang tetap terasa melodis.
Hammersonic 2026/ Foto: Insertlive
Intensitas tidak turun. Memphis May Fire mengambil alih dengan energi yang tak kalah besar.
Lagu Paralyzed langsung membuka set mereka dan disambut sorakan penonton.
Vokalis Matty Mullins sempat berhenti sejenak untuk menyampaikan rasa emosionalnya bisa kembali ke Indonesia.
"Senang rasanya bisa kembali ke Indonesia lagi," kata Matty.
Malam semakin dalam, tetapi energi justru semakin tinggi. Memphis May Fire melanjutkan dengan Bleed Me Dry hingga Somebody sebelum Matty menyampaikan pesan yang terasa hangat di tengah kerasnya musik.
"Terima kasih dari lubuk hati kami yang terdalam karena kami masih kesempatan di dalam hidup kami untuk mengunjungi kalian di negeri yang sangat indah ini," ujar Matty.
Hammersonic 2026/ Foto: Insertlive
Ketika Counterparts naik ke panggung, suasana berubah menjadi lebih intens secara emosional.
Band asal Ontario ini tidak memberi waktu untuk beradaptasi. Mereka langsung membuka dengan lagu-lagu seperti A Martyr Left Alive, Bound To The Burn, dan With Loving Arms Disfigured.
"Terima kasih, kami sangat mengapresiasi kehadiran kalian di sini, kami punya banyak yang akan ditampilkan," ungkap Brendan Murphy.
Set mereka terasa seperti serangan tanpa jeda. Lagu demi lagu seperti Wings Of Nightmare, Paradise and Plague, Unwavering Vow, hingga Your Own Knife menghantam penonton.
Tidak ada ruang untuk diam, hanya ada pilihan untuk ikut tenggelam dalam emosi yang dibangun Counterparts.
Penampilan mereka pun ditutup dengan Whispers Of Your Death, lagu yang didedikasikan untuk kucing kesayangan Brendan yang telah meninggal.
Momen itu menjadi titik paling emosional malam tersebut, ketika ribuan orang ikut larut dalam lirik yang personal.
Detail kecil justru mencuri perhatian. Brendan tampil mengenakan kaos bergambar Dahyun dari TWICE, menciptakan kontras unik antara dunia hardcore dan K-pop dalam satu panggung.
Puncak hari pertama akhirnya ditutup oleh Jinjer dan Parkway Drive. Nama terakhir tampil sebagai penutup dengan performa yang terasa megah dan penuh kontrol.
Lagu seperti Sacred hingga Wild Eyes menjadi penegas bahwa Hammersonic masih menjadi panggung utama bagi band-band besar dunia.
Hari pertama Hammersonic 2026 bukan sekadar pembuka. Terasa seperti deklarasi bahwa setelah satu dekade, festival ini tidak melemah, justru semakin liar, semakin besar, dan semakin tak tergantikan bagi para pecinta musik keras di Indonesia.
Sampai jumpa di Day-2 Hammersonic 2026, Minggu (3/5) besok...
(ikh/ikh)
Loading ...

14 hours ago
13
















































