Day-2 Hammersonic 2026: Agnostic Front Tak Dimakan Usia hingga Dashboard Confessional Nostalgia

15 hours ago 10

Jakarta -

Langit cerah yang menyelimuti kawasan NICE PIK 2 pada Minggu sore seolah jadi pertanda bahwa hari kedua Hammersonic Festival 2026 tidak akan berjalan biasa saja.

Sejak matahari masih tinggi, lautan penonton sudah memenuhi area festival, membawa satu energi yang sama: siap dihajar habis-habisan oleh lineup lintas generasi dan genre keras.

Deretan band internasional langsung mengambil alih panggung tanpa basa-basi. Nama-nama dari Asia Timur seperti Nocturnal Nihil (Taiwan), EMNW (Jepang) yang dibantu gitaris Total Fat, Kuboty, hingga ELLEGARDEN (Jepang), membuka hari dengan intensitas tinggi.

Penonton yang sudah datang sejak siang tak butuh waktu lama untuk larut, seolah setiap riff gitar dan hentakan drum jadi pemicu adrenalin yang terus naik.


Transisi energi kemudian bergerak ke ranah pop-punk dan emo modern saat Knuckle Puck dan Hawthorne Heights mengambil alih. Lagu-lagu andalan mereka mengalir seperti playlist masa muda yang tiba-tiba hidup kembali di tengah kerumunan.

Memasuki malam, suhu panggung berubah drastis. A Skylit Drive membuka jalan menuju kekacauan yang lebih brutal, sebelum akhirnya dihantam habis oleh Malevolence.

Hammersonic 2026Hammersonic 2026/ Foto: Insertlive

Tanpa banyak intro, Malevolence langsung menghajar lewat Trenches hingga Life Sentences, membuat moshpit meledak di berbagai sisi.

Vokalis Malevolence, Alex Taylor, tak bisa menyembunyikan antusiasmenya saat pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia.

"Sungguh luar biasa! Ini pertama kalinya kami ke Indonesia. Terima kasih banyak sudah berada di sini," ujarnya di tengah riuh penonton.

Setelah itu, serangan band metalcore asal tanah Inggris ini berlanjut tanpa ampun lewat Self Supremacy, Still Waters Run Deep, hingga So Help Me God, sebelum akhirnya ditutup dengan On Broken Glass dan If It's All The Same to You yang terasa seperti pukulan terakhir yang sempurna.

Hammersonic 2026Hammersonic 2026/ Foto: Insertlive

Malam semakin gelap, tapi energi justru bergeser ke arah yang berbeda. Gelombang emo mengambil alih suasana.

Senses Fail menghidupkan kembali emosi lama lewat You're Cute When You Scream hingga Death By Water, membawa penonton ke fase paling jujur dalam hidup mereka.

Hammersonic 2026Hammersonic 2026/ Foto: Insertlive

Euforia berlanjut saat blessthefall naik panggung. Aksi panggung Beau Bokan yang liar dan penuh energi membuat setiap lagu seperti Hollow Bodies hingga What's Left of Me terasa lebih hidup.

"Aku cinta kalian," teriak Beau, yang langsung disambut gemuruh penonton.

Hammersonic 2026Hammersonic 2026/ Foto: Insertlive

Momentum nostalgia mencapai puncaknya ketika The Red Jumpsuit Apparatus mengambil alih.

Tanpa menunggu lama, mereka membuka dengan Brace Yourself dan langsung mengajak penonton kembali ke era awal 2000-an.

Ronnie Winter bahkan secara gamblang mengajak penonton bernostalgia.

"Kami sudah main band sejak 2003, ayo kita kembali sejenak ke masa itu, siapa di sini yang masih hidup dari zaman itu?" katanya.

Momen tak terduga muncul ketika K Enagonio menerbangkan drone dari atas panggung, sebelum band ini membawakan Cat and Mouse dan Your Guardian Angel yang langsung mengubah suasana menjadi emosional.

Lagu Face Down kemudian jadi penutup yang membuat satu generasi bernyanyi tanpa sisa.

Hammersonic 2026Hammersonic 2026/ Foto: Insertlive

Belum sempat bernapas, energi kembali diputar ke arah yang lebih liar saat Agnostic Front naik panggung.

Duo legendaris "Godfather of Hardcore" Vinnie Stigma dan Roger Miret membuktikan usia bukan penghalang.

Di usia 70 dan 61 tahun, mereka tetap brutal, menghajar lewat My Life My Way hingga Blitzkrieg Pop sambil memicu moshpit yang makin tak terkendali.

Hammersonic 2026Hammersonic 2026/ Foto: Insertlive

Puncak emosional malam itu akhirnya jatuh ke tangan Dashboard Confessional.

Sosok Chris Carrabba tampil seolah waktu tak pernah menyentuhnya. Vokalnya tetap hangat, tetap jujur, sama seperti saat pertama kali dikenal publik.

Di sela penampilan, Chris mengungkapkan perasaan yang cukup kontras dengan lineup hari itu.

"Kami bukan band yang keras, dan kami tampil di antara band-band keras, terima kasih sudah mau menonton kami," katanya.

Namun justru di situlah magisnya. Lagu-lagu seperti Screaming Infidelities, Stolen, hingga Remember to Breathe berubah menjadi paduan suara raksasa.

Ribuan penonton bernyanyi bersama, menciptakan momen yang terasa lebih personal dibandingkan dentuman sebelumnya.

Saat Vindicated dan Hands Down akhirnya dikumandangkan, Hammersonic 2026 resmi ditutup dengan cara yang tidak hanya keras, tapi juga penuh rasa.

Sebuah perjalanan emosional yang bergerak dari chaos menuju kenangan, dari moshpit menuju pelukan nostalgia.

Satu dekade Hammersonic dirayakan bukan hanya lewat suara bising, tetapi juga lewat cerita, memori, dan ikatan yang tak tergantikan antara musik dan mereka yang hidup di dalamnya.

(ikh/ikh)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |