Jakarta -
Dalam pergaulan sehari-hari, kata-kata sering kali punya dampak lebih besar dari yang disadari. Niatnya mungkin bercanda atau sekadar jujur, tapi pilihan ungkapan tertentu justru bisa membuat orang lain merasa tidak nyaman, tersinggung, atau menjaga jarak.
Tanpa sadar, kebiasaan ini pelan-pelan bisa membentuk kesan negatif dan bikin orang lain enggan melanjutkan obrolan.
Supaya hubungan sosial tetap nyaman dan mengalir, penting untuk lebih peka dengan kata-kata yang keluar. Agar interaksi tetap hangat dan tidak menimbulkan kesan keliru, berikut beberapa ungkapan yang sebaiknya dihindari agar Insertizen tidak dicap gagal bersosialisasi.
1. "Sebenarnya..."
Kata "sebenarnya" sering muncul saat ingin meluruskan atau menambahkan informasi. Masalahnya, dalam percakapan santai, frasa ini mudah terdengar seperti sedang mengoreksi atau merasa paling benar. Alih-alih membuat diskusi sehat, lawan bicara justru bisa merasa direndahkan.
Pakar etiket Nick Leighton menilai, tidak semua kesalahan perlu dibenarkan secara langsung, apalagi di situasi yang kondisinya informal. Jika tujuannya ingin berbagi sudut pandang, lebih baik gunakan kalimat yang terbuka dan empatik agar suasana tetap nyaman.
2. "Ya Emang Aku Aja yang Kayak Gini..."
Ungkapan ini sering terdengar sepele, tapi menyimpan pesan bahwa diri sendiri sudah pasrah dan tidak berharap dimengerti. Dalam pergaulan, kalimat seperti ini bisa membuat lawan bicara bingung harus merespons apa, bahkan merasa dijauhkan secara emosional.
Tanpa disadari, kebiasaan mengucapkan kalimat ini juga bisa menciptakan jarak sosial. Padahal, komunikasi yang baik justru membuka ruang untuk saling memahami, bukan menutupnya sejak awal.
3. "Nggak Bermaksud Menyinggung, Tapi..."
Kalimat pembuka ini sering dipakai sebelum kritik atau komentar sensitif. Ironisnya, frasa ini justru membuat orang bersiap tersinggung. Setelah mendengarnya, lawan bicara biasanya sudah berada di posisi defensif.
Daripada menggunakan kalimat ini, lebih baik langsung menyampaikan pendapat dengan bahasa yang lembut dan fokus pada solusinya. Cara penyampaian yang tepat jauh lebih menentukan daripada niat yang hanya diucapkan di awal.
4. "Aku Cuma Jujur"
Kejujuran memang penting, tapi bukan berarti semua hal bisa disampaikan tanpa filter. Menjadikan "jujur" sebagai alasan untuk berkata tajam atau menyakitkan justru menunjukkan kurangnya empati dalam berkomunikasi.
Etika berbicara menuntut keseimbangan antara kejujuran dan kepedulian. Pesan yang sama bisa diterima oleh lawan bicara dengan lebih baik jika disampaikan dengan cara yang lebih halus dan menghargai perasaan.
5. "Kamu Selalu" atau "Kamu Tidak Pernah"
Kalimat bernada generalisasi seperti ini sering memicu konflik. Menyamaratakan perilaku seseorang membuat lawan bicara merasa disudutkan dan disalahkan sepenuhnya, meski situasinya tidak selalu seperti itu.
Dalam diskusi atau perdebatan, akan jauh lebih efektif jika membahas kejadian yang spesifik. Dengan begitu, pembicaraan tetap fokus, tidak melebar, dan peluang untuk saling memahami jadi lebih besar.
Memperhatikan pilihan kata mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya ternyata besar dalam kehidupan sosial. Dengan menghindari ungkapan-ungkapan di atas, komunikasi yang Insertizen lakukan nantinya akan terasa lebih sehat, hubungan tetap terjaga, dan kesan yang ditinggalkan pun jauh lebih positif.
(Steffy Gracia/fik)

2 hours ago
3
















































