Reaksi Keluarga Saat Val Kilmer Hidup Lagi Lewat AI di Film As Deep As The Grave

5 hours ago 6

Jakarta -

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, batas antara kehidupan dan kematian di dunia perfilman kini semakin kabur.

Nama Val Kilmer kembali jadi sorotan, meski sang aktor telah meninggal dunia pada April 2025. Lewat teknologi deepfake berbasis AI, ia "dihidupkan kembali" untuk membintangi film baru berjudul As Deep As The Grave.

Proyek ini bukan sekadar eksperimen teknologi, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap keinginan terakhir Kilmer.

Sang aktor sebenarnya sudah terlibat dalam film tersebut sejak 2020, namun kondisi kesehatannya saat itu membuatnya tak mampu melanjutkan proses syuting.


Sutradara sekaligus penulis film, Coerte Voorhees, akhirnya mengambil keputusan berani yakni menggunakan AI generatif untuk merekonstruksi sosok Kilmer dari arsip foto dan video sepanjang hidupnya-mulai dari masa muda hingga tahun-tahun terakhirnya.

Keputusan ini tidak diambil secara sepihak. Keluarga Kilmer, termasuk putrinya Mercedes Kilmer dan putranya Jack Kilmer, memberikan dukungan penuh terhadap proyek tersebut.

"Keluarganya terus mengatakan betapa pentingnya film ini menurut mereka dan bahwa Val benar-benar ingin menjadi bagian darinya," kata Voorhees.

"Dia benar-benar berpikir ini adalah cerita penting yang ingin dia cantumkan namanya. Dukungan itulah yang memberi saya kepercayaan diri untuk mengatakan, oke, mari kita lakukan ini. Terlepas dari kenyataan bahwa beberapa orang mungkin menyebutnya kontroversial, inilah yang diinginkan Val," sambungnya.

Dalam film ini, Kilmer akan memerankan Pastor Fintan, seorang pastor Katolik yang juga spiritualis penduduk asli Amerika.

Karakter tersebut hadir dalam kisah nyata tentang dua arkeolog yang menelusuri sejarah suku Navajo.

Film As Deep As The Grave juga dibintangi oleh Tom Felton, Abigail Breslin, Wes Studi, dan Abigail Lawrie.

Bagi Voorhees, memilih Kilmer bukan keputusan acak. Ia menegaskan bahwa karakter tersebut sejak awal memang dirancang khusus untuk sang aktor, termasuk latar belakang budaya dan kedekatannya dengan wilayah Amerika Barat Daya.

"Dia adalah aktor yang saya inginkan untuk memerankan peran ini. Peran ini sangat dirancang untuknya. Ini memanfaatkan warisan penduduk asli Amerika dan hubungannya dengan serta kecintaannya pada wilayah Barat Daya. Saya melihat daftar pemain beberapa hari yang lalu, dan kami sudah menyiapkannya untuk syuting. Dia hanya sedang mengalami masa yang sangat, sangat sulit secara medis, dan dia tidak bisa melakukannya," ujarnya.

Keputusan menghadirkan Kilmer lewat AI tentu memicu perdebatan. Di satu sisi, ini dianggap sebagai terobosan teknologi yang membuka kemungkinan baru dalam industri film.

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan etika tentang penggunaan wajah dan identitas seseorang yang telah tiada.

Kilmer sendiri dikenal luas lewat peran-peran ikonik seperti di Batman Forever, The Doors, hingga Top Gun sebagai Iceman-peran yang kembali ia mainkan dalam Top Gun: Maverick.

Sebelum wafat, ia juga sempat merilis film dokumenter emosional berjudul Val, yang mengisahkan perjuangannya melawan kanker tenggorokan dan kehilangan suara-sebuah potret jujur tentang kehidupan di balik sorotan kamera.

Kepergiannya pun meninggalkan duka mendalam, termasuk bagi Tom Cruise yang pernah menjadi lawan mainnya. Dalam sebuah kesempatan, Cruise bahkan mengajak publik untuk mengenang Kilmer dengan penuh rasa hormat.

"Saya ingin menghormati seorang sahabat saya, Val Kilmer. Saya tidak bisa mengungkapkan betapa saya mengagumi karyanya, betapa bersyukur dan terhormatnya saya ketika dia bergabung dengan Top Gun dan kembali lagi untuk Top Gun: Maverick," katanya.

Kini, lewat teknologi AI, warisan Kilmer seolah mendapat bab baru. Bukan hanya tentang menghadirkan kembali sosoknya di layar, tetapi juga tentang bagaimana industri film mulai menulis ulang batas antara kenangan, teknologi, dan keabadian.

(ikh/ikh)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |