Eskalasi AS-Israel ke Iran: Ambang Perang Dunia atau Gertakan Geopolitik?

14 hours ago 11

Makassartoday.com, Teheran – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah operasi militer besar yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan menghantam sejumlah titik strategis di Iran pada akhir Februari 2026. Dunia kini menahan napas, mempertanyakan apakah serangan langsung ke jantung Republik Islam ini akan menjadi pemicu Perang Dunia III atau tetap menjadi konflik regional yang terkendali.

Analisis Pengamat: Bukan Lagi Perang Bayangan

Selamat Ginting, Pengamat Politik dan Militer dari Universitas Nasional (Unas), menilai bahwa keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam serangan ini telah mengubah total kalkulasi keamanan global. Menurutnya, fase “perang bayangan” (shadow war) yang selama bertahun-tahun dilakukan melalui sabotase dan proksi kini telah berakhir.

“Ini bukan lagi pesan simbolik, melainkan demonstrasi kemampuan untuk menghantam pusat gravitasi politik dan militer Iran. Dengan AS turun tangan langsung, ambang eskalasi menjadi jauh lebih tipis,” ujar Selamat Ginting dalam analisisnya.

Periklanan

Ad imageAd image

Senada dengan itu, pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran (Unpad), Teuku Rezasyah, menekankan bahwa serangan ini akan berdampak masif, terutama jika Iran memutuskan untuk melakukan pembalasan total (all-out war). Ia memproyeksikan bahwa pangkalan militer AS di negara-negara tetangga seperti Arab Saudi, Qatar, dan Yordania kini berada dalam jangkauan rudal balistik Iran.

Reaksi Sekutu Iran: Rusia dan China Pasang Badan?

Reaksi keras datang dari blok sekutu Iran. Berdasarkan perkembangan terkini, berikut adalah peta respons dari para mitra strategis Teheran:

Rusia: Moskow mengutuk keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan provokatif yang tidak bertanggung jawab. Rusia memperingatkan bahwa ketidakmampuan Dewan Keamanan PBB dalam meredam agresi ini hanya akan mendorong dunia ke arah krisis global terbesar sejak 1945.

China: Beijing mendesak semua pihak untuk menahan diri namun secara implisit menyalahkan “tekanan ekstrem” dari pihak Barat. China menekankan pentingnya stabilitas di Selat Hormuz, mengingat gangguan di jalur tersebut akan memicu krisis energi global yang melumpuhkan ekonomi dunia.

Hizbullah dan Suriah: Sebagai garda terdepan “Poros Perlawanan”, Hizbullah di Lebanon dilaporkan telah meningkatkan status siaga mereka ke tingkat tertinggi. Suriah secara resmi menyatakan dukungan penuh bagi Iran untuk membela kedaulatannya, menyebut respons Iran sebagai “hak yang sah”.

Dampak Ekonomi: Ancaman Pasokan Minyak Dunia

Para pakar sepakat bahwa dampak paling instan yang dirasakan dunia adalah di sektor energi. Jika Iran merespons dengan memblokade Selat Hormuz—jalur bagi 20% pasokan minyak mentah dunia—maka harga minyak diprediksi akan melonjak ke level yang tidak terbayangkan.

Adji Akhmad Rinaldo, pakar dari Umsida, memperingatkan bahwa jika “tiga front” (Timur Tengah, Eropa melalui perang Rusia-Ukraina, dan ketegangan di Asia) menyala secara bersamaan, dunia benar-benar berada di ambang krisis global yang tak terkendali.

Meskipun retorika “Perang Dunia III” mulai nyaring terdengar, banyak pihak masih berharap pada jalur diplomasi cepat yang ditengahi oleh kekuatan besar seperti China atau Turki. Namun, selama mesin perang di Teheran dan Tel Aviv tetap panas, stabilitas dunia masih akan bergantung pada seberapa jauh Iran akan membalas serangan “Major Combat Operations” yang dipimpin oleh Washington ini.

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |