Memahami 'Social Battery': Kenapa Introvert Butuh Waktu Menyendiri untuk Pulih?
Pernah merasa capek banget setelah ngobrol atau kumpul bareng banyak orang, padahal acaranya seru? Kamu tidak sendirian.
Banyak introvert mengalami hal yang sama, dan fenomena ini sering disebut sebagai 'social battery' atau 'baterai sosial' yang cepat habis.
Meski istilahnya terdengar unik, konsep ini punya dasar psikologis yang menarik, dan bisa menjelaskan kenapa sebagian orang butuh waktu menyendiri setelah bersosialisasi.
Apa Itu Introvert?
Konsep tentang introvert atau introversi pertama kali digagas oleh psikiater asal Swiss, Carl Jung, lewat karya bertajuk Psychological Types pada 1921. Jung menjelaskan bahwa introvert cenderung memusatkan perhatian ke dalam diri, seperti pada ide, perasaan, serta pengalaman internal. Sementara itu, ekstrovert mengarahkan energinya ke dunia luar, seperti aktivitas dan interaksi dengan orang lain.
Namun, para peneliti sepakat bahwa introvert dan ekstrovert bukanlah dua kategori yang benar-benar terpisah. Kebanyakan orang berada di antara keduanya, ada spektrum yang fleksibel, bukan hitam-putih.
Alasan Introvert Lebih Cepat 'Lowbat' Setelah Bersosialisasi
Salah satu metafora paling populer untuk menggambarkan introversi adalah social battery atau baterai sosial.
Baterai sosial adalah analogi yang digunakan untuk menggambarkan jumlah energi yang dimiliki seseorang untuk bersosialisasi. Pada introvert, social battery cenderung berkapasitas kecil dan cepat terkuras saat berinteraksi, terutama dalam keramaian.
Meskipun bukan berasal dari konsep ilmiah resmi, metafora ini sangat membantu untuk memahami kenapa sebagian orang merasa lelah setelah banyak bersosialisasi.
Ternyata, ada penelitian yang mendukung gambaran ini. Mengutip Forbes, sebuah studi pada 2020 di jurnal Heliyon menemukan bahwa kebanyakan orang, baik introvert maupun ekstrovert, melaporkan rasa lelahnya meningkat setelah bersosialisasi selama dua sampai tiga jam. Artinya, drainase energi sosial itu nyata, walaupun penyebab dan intensitasnya bisa berbeda-beda.
Faktor neurologis juga ikut berperan. Studi tahun 2013 dari Frontiers in Human Neuroscience menunjukkan adanya perbedaan cara otak introvert dan ekstrovert memproses neurotransmitter.
Introvert lebih banyak mengandalkan asetilkolin yang mendukung pemrosesan internal, sementara ekstrovert lebih terdorong oleh dopamin yang berkaitan dengan stimulasi dan penghargaan sosial. Perbedaan inilah yang membuat keduanya punya pola energi berbeda.
Tips Mengisi Ulang Baterai Sosial untuk Introvert
Kalau kamu merasa cepat lelah setelah bersosialisasi, lakukan langkah berikut untuk memulihkan diri:
1. Sediakan waktu jeda setelah acara sosial. Energi sosial perlu dipulihkan. Luangkan waktu menyendiri setelah banyak berinteraksi.
2. Pilih interaksi yang lebih bermakna. Percakapan mendalam sering terasa lebih menyenangkan bagi introvert ketimbang small talk yang melelahkan.
2. Kenali batas energi sosialmu. Banyak orang kehabisan energi setelah dua hingga tiga jam sosialisasi intens. Mengenal durasi nyamanmu bisa membantu merencanakan aktivitas sosial tanpa merasa kewalahan.
Apa Kata Pakar Soal Introvert dan Energi Sosial?
Para peneliti menekankan bahwa introversi bukan sekadar soal suka atau tidak suka bersosialisasi, melainkan pola energi yang memengaruhi cara seseorang menempatkan diri dalam interaksi sosial.
Introvert yang tetap aktif berinteraksi justru cenderung memiliki harga diri lebih baik dibanding yang sepenuhnya menarik diri. Introvert bukan anti-sosial, mereka hanya punya ritme berbeda.
Di sisi lain, semua orang bisa mengalami kelelahan sosial, termasuk ekstrovert. Bedanya, ekstrovert biasanya memperoleh energi dari sosialisasi, sementara introvert butuh waktu menyendiri untuk 'mengisi daya'.

6 hours ago
6
















































