Polemik Film Pesta Babi Angkat Isu Kolonialisme di Kehidupan Masyarakat Adat Papua

6 hours ago 6

Jakarta -

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mendadak ramai diperbincangkan publik setelah sejumlah agenda pemutaran dan diskusi filmnya menuai kontroversi di berbagai daerah.

Dokumenter garapan Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale itu bukan sekadar menghadirkan potret kehidupan masyarakat Papua, tetapi juga membuka diskusi panjang soal tanah adat, eksploitasi alam, hingga makna pembangunan di wilayah timur Indonesia.

Sejak pertama kali diperkenalkan, film ini langsung menarik perhatian karena membawa tema yang sensitif sekaligus emosional.

Judul Pesta Babi sendiri diambil dari tradisi budaya masyarakat Papua yang menjadikan pesta babi sebagai simbol kebersamaan, penghormatan, hingga bagian penting dalam ritual adat.


Namun, makna tersebut kemudian dipertemukan dengan realitas baru yang diperlihatkan dalam film.

Kamera dokumenter mengikuti kehidupan warga di Papua Selatan yang disebut mulai menghadapi perubahan besar akibat proyek pembangunan berskala masif, mulai dari food estate, perkebunan industri, hingga pembukaan lahan untuk kebutuhan ekonomi nasional.

Film berdurasi sekitar 95 menit itu memperlihatkan bagaimana hutan-hutan adat perlahan berubah, sementara masyarakat lokal mulai mempertanyakan masa depan ruang hidup mereka.

Narasi yang dibangun tidak hanya menampilkan bentang alam Papua, tetapi juga suara-suara warga yang merasa kehidupan mereka ikut berubah bersama datangnya proyek besar ke wilayah tersebut.

Lewat pendekatan investigatif khas Watchdoc, film ini mencoba menggambarkan benturan antara modernisasi dan identitas budaya masyarakat adat.

Isu lingkungan, konflik agraria, hingga kekhawatiran hilangnya tradisi lokal menjadi benang merah yang terus muncul sepanjang dokumenter berjalan.

Sorotan terhadap Pesta Babi semakin besar setelah sejumlah acara nonton bareng dan diskusi film dilaporkan mengalami pembubaran di beberapa kota.

Situasi itu langsung memicu perdebatan publik di berbagai lini media sosial.

Sebagian pihak menilai film tersebut penting sebagai ruang diskusi soal Papua dan lingkungan, sementara pihak lain menganggap tema yang diangkat sangat sensitif dan rawan menimbulkan polemik.

Kontroversi itu justru membuat rasa penasaran publik meningkat. Banyak netizen mulai mencari tahu isi dokumenter tersebut, termasuk alasan mengapa film ini dianggap berbeda dari dokumenter sosial pada umumnya.

Secara visual, Pesta Babi tidak hanya menampilkan lanskap Papua yang megah, tetapi juga memperlihatkan sisi personal masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan alam. Film ini mencoba membawa penonton melihat Papua dari sudut pandang warga lokal yang jarang mendapat ruang besar dalam narasi arus utama.

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, Pesta Babi kini menjadi salah satu dokumenter Indonesia yang paling banyak dibicarakan sepanjang 2026. Bukan hanya karena kontroversinya, tetapi juga karena keberaniannya mengangkat isu yang selama ini jarang muncul secara terbuka di layar publik.

(ikh/ikh)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |