Ternyata Pasien Bariatrik Perlu Pendampingan Ahli Gizi hingga Psikolog, Ini Alasannya

20 hours ago 10

Jakarta -

Operasi bariatrik merupakan salah satu prosedur operasi yang belakangan tren di masyarakat.

Operasi ini ngetren seiring dengan gaya hidup modern seperti mengonsumsi makanan ultra-proses tinggi gula & lemak secara berlebihan, kurang aktivitas fisik, kurang tidur, stres kronis yang memicu meningkatnya persentase obesitas di Indonesia.

Pada beberapa pasien, operasi bariatrik dapat menjadi pilihan saat dirasa risiko mempertahankan obesitas lebih besar daripada risiko operasinya.

"Operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik, prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori serta respons hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya," ujar dr Handy Wing, Dokter Spesialis Bedah Digestif.


"Ada beberapa kriteria minimum BMI sesuai dengan latar belakang kesehatan pasien yang dapat terbantu melalui operasi bariatrik. Di antaranya: pasien diabetes melitus dengan BMI di atas 27,5; pasien dengan komorbid dengan BMI di atas 30; dan tanpa komorbid dengan BMI di atas 35," lanjutnya.

Dengan melakukan bariartik, pasien akan membutuhkan adaptasi terhadap pola makan baru yang tidak biasa karena volume lambung yang mengecil.

Kondisi ini membutuhkan pendampingan nutrisi serta kebutuhan akan tambahan suplemen sangat dibutuhkan oleh pasien pasca bariatrik.

"Sebelum dan setelah bariatrik, pola makan pasien berubah secara signifikan, terutama masa setelah operasi yang sangat krusial karena pasien harus beradaptasi dengan lambung barunya. Fokus kami tidak hanya memastikan kecukupan cairan dan protein, tetapi juga mencegah defisiensi mikronutrien serta mendampingi tahapan makanan," jelas Veronica, ahli gizi dan program manager dari LIGHT Group.

Selain soal pendampingan gizi, tantangan lain yang hadir setelah bariatrik adalah dari sisi psikologis. Perubahan drastis secara permanen berpengaruh terhadap keadaan psikologis pasien.

Dilansir dari situs Pubmed, sekitar 15% pasien bariatrik mengalami depresi yang diakibatkan dari perubahan hormon dan metabolik. Skrining psikologis sebelum dan pendampingan setelah operasi sangat dianjurkan untuk memantau kesehatan mental pasien.

"Bagi banyak individu, makan bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi mekanisme coping. Jika akar emosionalnya tidak ditangani, rasa frustasi akan dihadapi pasien. Karena itu, pendampingan psikolog dibutuhkan agar pasien dapat lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan dan dapat menyesuaikan pola hidup dan mindset yang baru dengan lebih efektif," ujar Tara de Thouars, psikologis klinis.

Untuk membantu pemulihan dan mencapai hasil yang maksimal bagi pasien bariatrik, program pendampingan dari ahli sangatlah diperlukan. Pendampingan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup aspek nutrisi dan psikologis.

Salah satu program yang tersedia adalah LIGHT Companion Program. Melalui pendekatan pendampingan yang komprehensif, program ini berfokus pada edukasi serta perubahan perilaku, guna membantu pasien mempertahankan hasil tindakan, mencapai penurunan berat badan yang optimal, sekaligus membangun kebiasaan hidup sehat secara jangka panjang.

(dia/fik)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |