Jakarta -
Banyak orang menganggap kebiasaan mendengkur saat tidur sebagai hal yang wajar. Padahal, menurut dokter spesialis saraf, ngorok yang terjadi terus-menerus bisa menjadi tanda gangguan tidur serius yang berisiko memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk stroke hingga demensia.
Kepala Neurologi, Epileptologi, dan Sleep Medicine di Manipal Hospital Old Airport Road, Bengaluru, India, Dr. Pramod Krishnan, menjelaskan bahwa mendengkur dapat menjadi gejala obstructive sleep apnea (OSA) atau apnea tidur obstruktif.
"Semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa mendengkur bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Kondisi ini dapat menjadi tanda gangguan tidur serius yang disebut obstructive sleep apnea," kata Krishnan.
OSA merupakan gangguan tidur yang terjadi ketika saluran napas bagian atas berulang kali tersumbat saat seseorang sedang tidur. Kondisi tersebut menyebabkan napas berhenti selama beberapa detik, kemudian kembali normal, dan dapat terjadi berkali-kali sepanjang malam.
Selain mendengkur keras, penderita OSA umumnya mengalami sejumlah gejala lain, seperti bangun tidur tetapi tetap merasa lelah, mengantuk berlebihan pada siang hari, sakit kepala saat bangun, serta sulit berkonsentrasi karena kualitas tidur yang buruk.
Meski demikian, Krishnan menegaskan bahwa tidak semua orang yang mendengkur pasti mengalami OSA. Apabila ngorok tidak disertai keluhan lain, kondisi tersebut umumnya tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun, jika muncul bersamaan dengan gejala-gejala tersebut, pemeriksaan medis sangat dianjurkan.
Menurut Krishnan, risiko stroke dan demensia pada penderita OSA muncul karena kadar oksigen dalam darah terus menurun akibat saluran napas yang berulang kali tersumbat saat tidur. Akibatnya, tidur menjadi tidak berkualitas dan tubuh tidak memperoleh waktu istirahat yang optimal.
"Pada penderita OSA, tidur menjadi terfragmentasi karena kadar oksigen darah berulang kali turun akibat sumbatan pada saluran napas bagian atas. Napas tampak berhenti dan kembali berlangsung berulang kali selama tidur," jelasnya.
Penurunan kadar oksigen yang terjadi berulang kali dapat memicu peradangan, meningkatkan stres oksidatif, hingga menyebabkan kerusakan sel-sel saraf, terutama pada area otak yang berperan dalam fungsi memori dan kemampuan berpikir. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa penderita OSA lebih berisiko mengalami penurunan daya ingat, gangguan konsentrasi, hingga penurunan fungsi kognitif.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Krishnan menyarankan penggunaan terapi Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Alat ini bekerja dengan menjaga saluran napas tetap terbuka selama tidur sehingga aliran udara tidak terhambat. Selain itu, menjaga berat badan tetap ideal juga menjadi salah satu langkah penting untuk membantu mengurangi tingkat keparahan OSA.
Krishnan mengingatkan bahwa diagnosis OSA harus dilakukan oleh tenaga medis. Apabila seseorang sering mendengkur disertai rasa kantuk berlebihan pada siang hari, sakit kepala saat bangun tidur, atau pasangan melihat napasnya sering berhenti saat tidur, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Semakin cepat gangguan tidur dikenali, semakin besar pula peluang untuk mencegah komplikasi serius yang dapat memengaruhi kesehatan otak maupun jantung di kemudian hari.
(ikh/and)
Loading ...

4 hours ago
3
















































