Viral Guru Paksa Potong Rambut Siswi Berhijab Gegara Razia, Dedi Mulyadi Bilang...

4 hours ago 4

Jakarta -

Media sosial baru-baru ini dihebohkan dengan video yang memperlihatkan sejumlah siswi SMKN 2 Garut menangis histeris usai rambut mereka dipotong oknum guru Bimbingan Konseling (BK) dalam rangka razia penampilan murid.

Kejadian ini menarik perhatian publik hingga menjadi viral, pasalnya para siswi dalam video tersebut kebanyakan menggunakan hijab. Hukuman potong rambut dengan alasan ketertiban pun dinilai terlalu berlebihan.

Insiden yang kabarnya terjadi pada 30 April 2026 ini pun turut menarik perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Menanggapi keresahan masyarakat, Dedi langsung memanggil oknum guru yang bersangkutan untuk dimintai klarifikasi.

Lewat sebuah pertemuan dengan oknum guru tersebut, Dedi Mulyadi memberikan serangkaian pertanyaan tajam soal latar belakang hukuman tersebut dilakukan.


Guru tersebut menyebut bahwa siswi yang dihukum tak pernah bolos sekolah, membuat Dedi Mulyadi semakin heran dengan alasan guru itu menerapkan hukuman potong rambut.

"Terus yang jadi problem apa? Dia kan berperilaku baik, secara akademis tidak bermasalah, rajin, terus masalahnya apa?" kata Dedi Mulyadi pada kesempatan itu, dikutip Jumat (8/5).

Oknum guru tersebut kemudian memberikan alasan yang mengejutkan. Menurutnya, tindakan potong rambut paksa diambil karena para siswi dianggap memiliki penampilan yang tidak sesuai aturan sekolah.

Ia berdalih bahwa para siswi menggunakan riasan wajah yang dinilai berlebihan meski menggunakan kerudung. Mendengar alasan tersebut, Dedi Mulyadi langsung menegaskan bahwa hal tersebut tak selayaknya dibalas dengan pemotongan rambut paksa.

"Oke kosmetiknya berlebihan, mungkin orang tuanya kaya. Gini-gini, argumentasinya apa sih? Problem-nya apa sih? Penampilan terlalu menor, kan tinggal diingatkan," tegas Dedi Mulyadi.

Dedi Mulyadi juga menegaskan bahwa setiap tindakan pendisplinan perlu melibatkan orang tua sebagai wali sah dari anak-anak yang masih di bawah umur.

Gubernur Jawa Barat itu kemudian mempertanyakan soal komunikasi formal yang dilakukan dengan wali murid sebelum hukuman potong rambut dilakukan. Ia turut memberikan edukasi soal pentingnya prosedur komunikasi yang baik dengan wali murid.

"Dibiasakan guru memberikan teguran kepada orang tua, diberitahu bahwa anak itu berpenampilan terlalu menor," ungkap Dedi.

Kasus ini kemudian menjadi sorotan publik terkait ketentuan penampilan di sekolah serta cara guru menerapkan sanksi tanpa harus dilakukan secara berlebihan.

(asw/naa)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |