7 Takhayul Soal Makanan yang Masih Dipercaya Warga Asia Sampai Sekarang

4 hours ago 5

Jakarta -

Di balik kelezatan kuliner Asia yang mendunia, ternyata tersimpan lapisan budaya yang tak kalah menarik untuk dibahas.

Bukan hanya soal rasa dan teknik memasak, melainkan juga kepercayaan turun-temurun yang masih dijaga hingga hari ini.

Beberapa di antaranya bahkan memengaruhi kebiasaan makan sehari-hari-mulai dari cara menyantap mi, memilih buah, hingga ritual sebelum ujian.

Berikut tujuh takhayul makanan di Asia yang masih hidup dan dipercaya hingga sekarang.


1. Pir dan Gurita: Simbol Sial dan Harapan di Jepang

Di Jepang, memberi pir sebagai hadiah bukan sekadar pilihan yang kurang tepat—ini dianggap membawa makna buruk.

Dalam bahasa Jepang, kata "nashi" untuk pir memiliki pelafalan yang sama dengan kata yang berarti "tidak ada" atau "kehancuran". Karena itu, memberikan pir kepada orang sakit atau pasangan bisa dimaknai sebagai harapan buruk.

Sebaliknya, siswa di Jepang justru punya ritual unik sebelum ujian: makan camilan gurita. Kata "tako" diasosiasikan dengan makna "menempel", sehingga diharapkan ilmu yang dipelajari bisa melekat kuat di ingatan.

2. Mi Panjang dan Sumpit di Tiongkok

Di Tiongkok, mi bukan sekadar makanan, melainkan simbol umur panjang. Karena itu, memotong mi saat makan—terutama di momen penting seperti ulang tahun-dianggap sebagai pertanda buruk yang bisa "memendekkan" usia secara simbolis.

Selain itu, ada pantangan keras menancapkan sumpit secara tegak di nasi. Posisi ini menyerupai dupa dalam ritual kematian, sehingga dianggap tidak sopan dan membawa aura kesialan.

3. Lemon dan Cabai sebagai Penangkal Energi Negatif di India

Di India, kombinasi tujuh cabai hijau dan satu lemon sering terlihat menggantung di pintu rumah atau kendaraan. Benda ini bukan hiasan, melainkan jimat untuk menangkal "mata jahat" atau energi negatif akibat iri dan dengki.

Kepercayaan ini berkaitan dengan mitos bahwa sosok pembawa sial akan tergoda oleh rasa asam dan pedas, sehingga berhenti di luar dan tidak masuk ke dalam rumah.

4. Kue Ketan Lengket vs Sup Licin di Korea Selatan

Menjelang ujian, siswa di Korea Selatan sering diberikan chapssal-tteok, kue ketan yang teksturnya lengket. Filosofinya sederhana: diharapkan ilmu pelajaran ikut "menempel" di otak.

Sebaliknya, makanan bertekstur licin seperti sup rumput laut justru dihindari karena dipercaya bisa membuat ilmu "tergelincir" dan mudah hilang.

5. Sebutir Nasi pun Tak Boleh Terbuang di Filipina

Di Filipina, nasi dipandang sebagai simbol kehidupan. Membuang atau menyisakan nasi dianggap sebagai tindakan tidak menghargai jerih payah petani.

Kepercayaan ini juga membawa konsekuensi simbolis: orang yang sering menyisakan makanan diyakini akan mengalami kesulitan hidup atau bahkan sulit mendapatkan pasangan yang setia.

6. Air Kelapa untuk Keberuntungan di Thailand

Di Thailand, air kelapa manis sering diminum sebelum ujian atau wawancara kerja. Minuman ini dianggap murni dan mampu menjernihkan pikiran, sehingga membantu seseorang tampil lebih tenang dan fokus.

Tradisi ini juga berkaitan dengan praktik spiritual, di mana air kelapa digunakan dalam ritual penyucian.

7. Nanas dan Ibu Hamil di Indonesia

Di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara, nanas kerap dihindari oleh ibu hamil, terutama nanas muda. Buah ini dipercaya bisa memicu keguguran atau kelahiran prematur.

Kepercayaan tersebut dikaitkan dengan kandungan enzim bromelain dalam nanas. Meski begitu, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang benar-benar memastikan bahaya tersebut dalam konsumsi normal.

Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, takhayul-takhayul ini mungkin terdengar tidak rasional. Namun, bagi banyak masyarakat Asia, kepercayaan tersebut bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari identitas budaya dan cara menghargai tradisi.

(ikh)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |