Film Kapal Terbang Menguak Fenomena Sejarah Penerbangan Indonesia

10 hours ago 11

Jakarta -

Industri film Tanah Air kembali bersiap menghadirkan kisah sejarah yang pernah mengguncang dunia. Peristiwa pembajakan pesawat Garuda Indonesia pada 1981 yang dikenal sebagai tragedi Woyla, kini diangkat ke layar lebar lewat film terbaru yang tengah memasuki tahap produksi.

Film ini tidak sekadar mengulang cerita lama, tetapi ingin mengajak generasi muda memahami sejarah bangsa dari sudut pandang berbeda.

Aktor Oka Antara mengungkapkan bahwa tema Woyla sebenarnya sudah lama ingin diangkat ke layar lebar. Namun, berbagai kendala, termasuk isu sensitif, membuat proyek ini beberapa kali gagal terealisasi.

"Film ini sedang di tahap proses produksi, buat saya tema Woyla ini sudah lama ada, dan selalu gagal diproduksi dengan beberapa penyebab, apalagi ada isu-isu sensitif. Saya senang diajak main film ini, dan saya juga memang ingin masyarakat tahu soal peristiwa yang cukup mengguncang mata dunia saat itu. Semoga film ini bisa menambah warna perfilman Indonesia," kata Oka Antara.


Sekilas Sejarah Tragedi Woyla 1981

Peristiwa Woyla terjadi pada 28 Maret 1981 ketika pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 206 dibajak oleh lima orang bersenjata yang mengatasnamakan diri sebagai Komando Jihad. Pesawat yang tengah terbang dari Palembang menuju Medan itu dipaksa mengubah rute hingga akhirnya mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand.

Selama beberapa hari, para penumpang dan awak kabin berada dalam situasi mencekam. Pemerintah Indonesia kemudian mengirimkan pasukan khusus dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) untuk melakukan operasi pembebasan sandera.

Operasi militer yang dikenal sebagai Operasi Woyla itu berlangsung pada 31 Maret 1981. Dalam penyergapan tersebut, seluruh pembajak berhasil dilumpuhkan. Namun, satu anggota pasukan Indonesia gugur, yakni Letnan Kolonel (Inf) Sintong Panjaitan-yang saat itu memimpin operasi-mengalami luka, dan satu prajurit lainnya,

Dalam operasi tersebut, seluruh pembajak berhasil dilumpuhkan. Satu prajurit TNI gugur, dan kapten pesawat meninggal dunia beberapa hari kemudian akibat luka tembak yang dideritanya. Peristiwa ini menjadi sorotan internasional dan dikenang sebagai salah satu operasi antiteror paling dramatis dalam sejarah Indonesia.

Dalam film ini, Naysilla Mirdad memerankan Puspita, salah satu pramugari dalam pesawat yang dibajak. Ia mengaku bangga bisa terlibat dalam film yang diangkat dari kisah nyata tersebut.

"Saya memerankan Puspita, salah satu pramugari di pesawat itu, dan saya senang bisa terlibat karena film ini berdasarkan kisah nyata," ujar Naysilla.

Tak hanya dari sisi cerita, detail produksi juga menjadi sorotan. Jeremy Thomas yang berperan sebagai kapten pesawat menyebut film ini menyimpan banyak pesan tak terduga.

"Saya di sini menjadi kapten di film ini. Tentu banyak pesan-pesan yang tidak terduga dari film ini, dan percayalah ini film yang sangat menarik, dan ini merupakan terobosan baru," kata Jeremy Thomas.

Sementara itu, Rifnu Wikana bahkan menyebut proyek ini sebagai salah satu film Indonesia terbaik di tahun 2026.

"Ini salah satu film Indonesia terbaik di 2026, dan saya bisa bilang belum ada film yang menghadirkan set pesawat yang benar-benar dari 1981. Apalagi dengan daftar pemeran yang dinamis," kata Rifnu Wikana.

Detail era 80-an juga digarap serius. Naysilla mengungkapkan bahwa seragam hingga gaya rambut dibuat autentik sesuai zamannya.

"Penampilan era 80an itu kan sangat berbeda ya, seragamnya itu memang asli dari era tahun segitu, dan yang aku menarik itu justru bagian rambut dan makeup, karena aku itu sampai potong rambut ya," kata Naysilla.

Dengan latar sejarah yang kuat serta pendekatan produksi yang detail, film tentang tragedi Woyla 1981 ini diharapkan bukan hanya menjadi tontonan menegangkan, tetapi juga pengingat sejarah penting bangsa yang pernah mengguncang mata dunia.

(ikh/ikh)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |