Industri Film Dunia Bisa Berubah, Merger Paramount-Warner Bros Lolos Ujian Penting

3 hours ago 3

Jakarta -

Industri hiburan dunia sedang menyoroti rencana merger raksasa yang melibatkan Paramount Skydance dan Warner Bros. Discovery (WBD). Kesepakatan bernilai fantastis mencapai US$111 miliar atau sekitar Rp1.800 triliun itu kini selangkah lebih dekat menuju kenyataan setelah mendapat persetujuan penting dari pemerintah Amerika Serikat.

Departemen Kehakiman AS melalui Divisi Antimonopoli resmi menyatakan bahwa rencana akuisisi tersebut tidak menimbulkan ancaman serius terhadap persaingan usaha maupun konsumen di Amerika.

Keputusan ini menjadi kabar positif bagi kedua perusahaan yang selama beberapa bulan terakhir menghadapi berbagai proses pemeriksaan regulasi.

Dalam pernyataannya, Divisi Antimonopoli menyebut pihaknya telah menyelesaikan investigasi terhadap rencana penggabungan tersebut.


"Divisi telah menyelesaikan analisisnya terhadap usulan merger Paramount dan Warner Bros. dan menentukan berdasarkan bukti yang diterima dalam penyelidikannya, bahwa transaksi tersebut kemungkinan tidak akan mengakibatkan kerugian bagi persaingan atau konsumen Amerika," demikian isi pernyataan lembaga tersebut.

Peninjauan yang dilakukan mencakup berbagai sektor bisnis hiburan, mulai dari layanan streaming video sesuai permintaan (video streaming on demand), televisi linear, hingga produksi dan distribusi film layar lebar.

Menanggapi keputusan tersebut, Paramount Skydance menyampaikan apresiasi kepada Departemen Kehakiman AS dan lembaga lain yang telah memberikan persetujuan terhadap transaksi tersebut.

"Kami berterima kasih atas tinjauan menyeluruh Departemen Kehakiman terhadap transaksi ini, serta kerja sama lembaga-lembaga lain yang telah menyelesaikan tinjauan mereka dan memberikan persetujuan hingga saat ini," tulis Paramount Skydance dalam pernyataan resminya.

Perusahaan juga menilai merger ini justru akan menciptakan persaingan yang lebih sehat di tengah dominasi platform teknologi besar yang semakin menguasai industri hiburan global.

"Kesepakatan ini pro-kompetitif, menghasilkan perusahaan yang lebih kuat dan lebih siap untuk bersaing melawan platform teknologi dominan di industri yang semakin ditandai oleh persaingan ketat untuk mendapatkan audiens, talenta, teknologi, dan investasi."

Mereka menegaskan fokus utama saat ini adalah menyelesaikan seluruh proses transaksi agar manfaatnya bisa segera dirasakan oleh industri.

"Kami tetap fokus untuk menyelesaikan transaksi sesegera mungkin dan memberikan manfaatnya kepada konsumen, kreator, dan industri hiburan secara keseluruhan."

Meski telah lolos dari salah satu hambatan terbesar, perjalanan merger ini ternyata masih belum selesai.

Menurut laporan Variety, masih ada sejumlah tantangan hukum yang berpotensi muncul. Beberapa jaksa agung negara bagian di Amerika Serikat, termasuk Jaksa Agung California Rob Bonta, disebut masih memiliki peluang untuk mengajukan gugatan guna menghentikan merger tersebut dengan alasan antimonopoli.

Selain itu, kesepakatan ini juga masih harus melewati proses peninjauan regulator di kawasan Eropa dan Inggris sebelum benar-benar bisa disahkan.

Jika merger ini berhasil diselesaikan, perusahaan baru hasil penggabungan tersebut akan memiliki deretan aset hiburan terbesar di dunia.

Dari pihak Paramount terdapat CBS, CBS News, Paramount Pictures, hingga Paramount+. Sementara Warner Bros. Discovery membawa HBO, HBO Max, Warner Bros. Pictures, CNN, TNT, TBS, HGTV, dan sejumlah jaringan media besar lainnya.

Tak heran jika rencana penggabungan ini langsung memicu perdebatan panjang di industri Hollywood.

Di balik potensi keuntungan besar, merger ini juga menuai banyak kritik.

Para petinggi Paramount sebelumnya memperkirakan perusahaan gabungan nanti dapat menghemat biaya operasional lebih dari US$6 miliar. Namun, prediksi tersebut memunculkan kekhawatiran akan terjadinya pemutusan hubungan kerja atau PHK dalam jumlah besar.

Hingga saat ini, lebih dari 5.500 sineas, aktor, kru produksi, dan pekerja industri hiburan Hollywood telah menandatangani surat terbuka yang menolak kesepakatan tersebut.

Mereka menilai merger berpotensi mengurangi lapangan pekerjaan, mempersempit persaingan industri, serta berdampak pada kenaikan biaya yang akhirnya dibebankan kepada konsumen.

Penolakan juga datang dari Serikat Pekerja Teamsters yang mendesak Departemen Kehakiman AS untuk memblokir transaksi tersebut kecuali Paramount bersedia memberikan jaminan perlindungan tenaga kerja yang jelas dan dapat ditegakkan secara hukum.

Selain itu, mereka juga meminta perusahaan berkomitmen untuk meningkatkan aktivitas produksi di Amerika Serikat demi menjaga keberlangsungan lapangan pekerjaan di industri hiburan.

Dengan nilai transaksi yang sangat besar dan dampak yang bisa mengubah peta industri hiburan global, merger Paramount dan Warner Bros. Discovery diperkirakan masih akan menjadi salah satu isu paling panas di Hollywood dalam beberapa bulan ke depan.

(yoa/yoa)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |