Jakarta -
Fenomena gerhana Bulan selalu menarik perhatian masyarakat. Secara ilmiah, gerhana terjadi ketika Bulan berada di bayangan Bumi sehingga tidak mendapatkan cahaya Matahari untuk dipantulkan kembali.
Namun, dalam budaya Jawa, gerhana bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan juga sarat makna mistis dan simbolik.
Berikut tiga mitos gerhana Bulan yang berkembang dalam kepercayaan Jawa, serta penjelasan menurut ajaran Islam.
1. Bulan Dimakan Batara Kala
Dalam tradisi Jawa, gerhana Bulan kerap dikaitkan dengan sosok Batara Kala. Konon, Batara Kala yang digambarkan sebagai raksasa memakan Bulan sehingga cahayanya menghilang.
Untuk mengusir Batara Kala, masyarakat zaman dahulu menabuh lumpang atau alat-alat dapur agar menimbulkan suara keras. Perempuan hamil juga dipercaya mengolesi perutnya dengan abu dapur demi melindungi bayi dari gangguan makhluk tersebut.
2. Ibu Hamil Harus Bersembunyi
Mitos lain menyebutkan bahwa perempuan hamil sebaiknya bersembunyi di bawah meja atau tempat tidur saat gerhana berlangsung. Kepercayaan ini bertujuan agar bayi yang dikandung terhindar dari nasib buruk.
Sebagian masyarakat meyakini jika larangan itu dilanggar, bayi bisa lahir dengan kondisi tidak sempurna, misalnya wajah yang tampak gelap sebelah. Meski demikian, keyakinan ini bersifat turun-temurun dan tidak memiliki dasar ilmiah.
3. Pertanda Baik atau Buruk Berdasarkan Waktu
Dalam kitab primbon Jawa, gerhana Bulan juga ditafsirkan berdasarkan bulan terjadinya. Setiap waktu diyakini membawa pertanda berbeda, mulai dari datangnya kemakmuran hingga bencana atau wabah penyakit.
Misalnya, gerhana pada bulan Rajab dipercaya sebagai pertanda perang dan kesulitan, sedangkan pada bulan Besar dianggap membawa masa kebahagiaan dan harga kebutuhan pokok yang murah. Tafsir semacam ini hidup dalam khazanah budaya Jawa sebagai bentuk simbolisme terhadap peristiwa alam.
Pandangan Islam tentang Gerhana Bulan
Dalam Islam, gerhana Bulan dipahami sebagai tanda kebesaran Allah SWT, bukan pertanda atau peristiwa mistis tertentu.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, sholatlah, dan bersedekahlah." (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut diriwayatkan saat putra Nabi, Ibrahim bin Muhammad, wafat bertepatan dengan gerhana Matahari.
Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa gerhana bukanlah tanda kematian atau kelahiran siapa pun.
Dalam syariat Islam, umat Muslim disunnahkan melaksanakan salat gerhana.
Untuk gerhana Bulan, salat yang dikerjakan disebut salat Khusuf. Selain itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, zikir, takbir, dan sedekah.
Antara Budaya dan Keyakinan
Mitos gerhana Bulan dalam budaya Jawa merupakan bagian dari warisan tradisi yang berkembang dari generasi ke generasi.
Sementara dalam Islam, fenomena ini dimaknai sebagai pengingat akan kebesaran Sang Pencipta dan momentum untuk meningkatkan ibadah.
(ikh/fik)
Loading ...

3 hours ago
1
















































