Jakarta -
Ternyata di balik gagasan besar tentang emansipasi perempuan yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini, tersimpan luka yang jarang dibicarakan.
Luka itu bukan berasal dari ruang publik, melainkan dari kisah hidup sang ibu, Ngasirah, yang harus menerima kenyataan pahit akibat sistem sosial dan aturan kolonial yang tidak adil bagi perempuan.
Ngasirah tumbuh di lingkungan sederhana yang religius di Jepara. Ia adalah putri dari keluarga guru agama, dan dibesarkan dengan nilai-nilai kesopanan serta keimanan yang kuat.
Meski tidak mengenyam pendidikan formal seperti kaum priyayi, ia dikenal memiliki karakter lembut dan penuh pengabdian.
Ngasirah menikah dengan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat pada 1872, yang kala itu menjabat sebagai Wedana Mayong. Ngasirah kemudian melahirkan delapan anak, termasuk Raden Ajeng Kartini pada 21 April 1879.
Awalnya, kehidupan rumah tangga mereka berjalan harmonis. Namun, semuanya berubah ketika jabatan sang suami naik menjadi bupati di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Kala itu, pemerintah kolonial menetapkan aturan tidak tertulis yang mengikat; yakni seorang bupati harus memiliki istri dari kalangan bangsawan.
Status Ngasirah yang bukan keturunan ningrat, membuat Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat akhirnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woejan.
Dari sinilah nasib Ngasirah berubah drastis. Ia yang sebelumnya istri sah, harus menerima penurunan status menjadi selir.
Sebagai selir, Ngasirah tidak lagi memiliki posisi terhormat di dalam rumah. Ia tidak diperbolehkan tinggal di rumah utama kabupaten dan harus menempati bagian belakang pendapa.
Lebih menyakitkan lagi, ia diwajibkan memanggil anak-anaknya sendiri dengan sebutan "ndoro". Sementara anak-anaknya harus memanggilnya "Yu", sebutan untuk abdi dalem perempuan. Sistem feodal saat itu benar-benar mengatur bahkan relasi ibu dan anak.
Meski hidup dalam keterbatasan, hubungan Ngasirah dengan Raden Ajeng Kartini justru sangat erat. Kartini kerap memilih tinggal bersama ibunya dan secara halus menolak aturan yang merendahkan posisi sang ibu.
Pengalaman menyaksikan langsung penderitaan Ngasirah membentuk cara pandang Kartini terhadap ketidakadilan. Ia tumbuh dengan pemikiran kritis terhadap poligami dan sistem sosial yang mengekang perempuan.
Dalam surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini secara terbuka menyuarakan penolakannya terhadap praktik poligami dan menggambarkan betapa beratnya beban perempuan dalam sistem tersebut.
Kisah Ngasirah bukan sekadar cerita keluarga, melainkan cermin nyata kondisi perempuan di era kolonial. Statusnya yang diturunkan menunjukkan bagaimana perempuan kerap dikorbankan demi memenuhi tuntutan status sosial dan kekuasaan.
Luka itulah yang membuat semangat Raden Ajeng Kartini untuk memperjuangkan kesetaraan tumbuh semakin kuat. Sosok Ngasirah mungkin jarang disebut, tetapi perannya menjadi fondasi penting lahirnya pemikiran besar tentang emansipasi perempuan di Indonesia.
(ikh)
Loading ...

5 hours ago
4
















































