Mandra Ungkap Penyebutan Alat Musik Betawi Tanjidor Selama Ini Salah

7 hours ago 12

Jakarta -

Nama tanjidor selama ini identik dengan kesenian musik tradisional Betawi.

Namun, seniman senior Betawi, Mandra, justru mengungkap fakta yang cukup mengejutkan.

Menurutnya, istilah tanjidor yang sudah dikenal luas masyarakat selama puluhan tahun sebenarnya merupakan penyebutan yang keliru.

Pernyataan tersebut disampaikan Mandra saat berbincang mengenai upaya pelestarian budaya Betawi.


Ia menilai masih banyak istilah dan sejarah kesenian Betawi yang belum dipahami secara utuh, bahkan oleh sebagian pelaku seni itu sendiri.

"Hal yang kayak begitu yang perlu dibenahi. Satu contoh macam seperti apa yang tadi situ bilang, dengan adanya sebutan tanjidor. Ini yang perlu diluruskan. Tanjidor itu dengan sebutan yang salah," kata Mandra.

Menurut Mandra, kesalahan penyebutan tersebut sudah berlangsung cukup lama hingga akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang benar oleh masyarakat.

Kondisi itu membuat banyak orang tidak lagi mengetahui istilah asli maupun sejarah di balik kesenian tersebut.

"Macam kayak bahasa kata panjak, anak wayang, kan kadang maaf ya, si senimannya sendiri banyak yang salah. Ya kadang-kadang itu ya senimannya sendiri aja nggak paham. Banyak," ujarnya.

Mandra kemudian menjelaskan bahwa istilah yang tepat sebenarnya adalah "Tanji".

Sementara kata "dor" yang selama ini melekat di belakangnya memiliki makna tersendiri dalam budaya Betawi.

"Dor itu bodoran (lawakan). Kalau mungkin era sekarang tahunya... komika karena ada lawakannya," jelasnya.

Menariknya, Mandra mengaku penyebutan tanjidor mulai populer sejak era 1990-an.

Popularitas istilah tersebut tidak lepas dari sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan yang melambungkan namanya.

"Kayak tanjidor. Tanjidor nggak ada. Lo mesti tahu asal usul, kok kenapa bisa disebut tanjidor? Lo kenalnya tahun berapa? Tanjidor tuh tahun berapa? 90-an mungkin, dengan kata bahasa tanjidor gara-gara Si Doel yang bilangnya tanjidor," beber Mandra.

Karena itu, pria berusia 59 tahun tersebut merasa memiliki tanggung jawab untuk meluruskan berbagai informasi terkait budaya Betawi.

Ia mengungkapkan cukup sering menerima kunjungan mahasiswa hingga peneliti yang ingin menggali sejarah kesenian Betawi secara langsung.

Mandra juga mengingatkan bahwa kesenian Betawi memiliki sejarah yang panjang dan saling berkaitan.

Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mengenal tanjidor tanpa memahami kesenian lain yang menjadi bagian dari perkembangan budaya tersebut.

"Kalau ada tanjidor berarti ada lagi sebenarnya. Ada jinong, ada jipeng. Itu kan urutannya si tanjidor. Kalau lo dulu kenal cuma tanjidor doang, ya berarti ilmu lo baru sejengkal. Apalagi lo orang Betawi ngakunya, 'Saya punya tanjidor', ya udah... ya baru bangun tidur kali," tutupnya sambil berkelakar.

(ikh/ikh)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |