Selain Kelelahan, Ini 6 Hal Penyebab Burnout di Kantor yang Jarang Disadari
Lelah secara emosional, kehilangan motivasi, bahkan mulai tidak peduli dengan pekerjaan bisa menjadi tanda bahwa Anda mengalami burnout di kantor. Kondisi ini bisa muncul secara perlahan dan sering dipicu oleh tekanan kerja sehari-hari yang terus menumpuk tanpa disadari.
Burnout tak hanya sekadar tidak mampu bekerja dengan baik atau kurang berusaha. Kondisi ini lebih sering dipicu oleh masalah di tempat kerja, mulai dari beban kerja yang berlebihan hingga lingkungan yang tidak mendukung.
American Psychological Association menjelaskan burnout di tempat kerja sebagai sebuah sindrom yang berkaitan dengan pekerjaan dan diakibatkan oleh stres kronis yang tidak berhasil dikelola dengan baik.
Kondisi ini bisa terjadi ketika tuntutan kerja yang datang melebihi kapasitas individu tanpa memberi ruang pemulihan. Akibatnya, seseorang bisa mengalami kelelahan luar biasa dan kehilangan semangat bekerja.
Selain rasa lelah, berikut merupakan enam hal yang jadi penyebab burnout di tempat kerja dan jarang disadari.
Penyebab Burnout di Kantor yang Jarang Disadari
1. Beban Kerja Berlebihan
Tuntutan pekerjaan yang terus meningkat tanpa diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup bisa membuat seseorang tak hanya kelelahan secara fisik, tetap juga mental. Tuntutan ini bukan hanya soal jumlah tugas yang meningkat, tetapi juga kompleksitas pekerjaan yang makin tinggi.
Jika kondisi ini dibiarkan lama tanpa ada penanganan yang tepat, tubuh dan pikiran tidak akan memiliki waktu untuk bisa pulih. Akibatnya, produktivitas bisa menurun dan kesehatan juga terganggu.
2. Kurang Kendali Atas Pekerjaan
Tidak memiliki kendali atas pekerjaan juga bisa memicu terjadinya burnout. Saat karyawan merasa tidak dipercaya untuk mengambil keputusan, rasa percaya diri serta kepuasan kerja mereka bisa terkikis.
Sebuah studi menemukan bahwa kendali diri sendiri di tempat kerja penting untuk kesejahteraan karyawan. Pengawasan yang berlebihan dari atasan atau senior bisa menurunkan motivasi karyawan untuk bekerja.
Sementara studi lain dari Swedia menemukan bahwa karyawan yang punya banyak kendali atas pekerjaan mereka cenderung lebih sehat, kurang depresi, bahkan jarang sakit.
3. Merasa Tidak Dihargai
Gejala burnout juga bisa muncul ketika karyawan merasa usaha mereka tidak dihargai, baik secara finansial maupun emosional. Hal ini termasuk dengan gaji yang tidak sepadan, kurangnya apresiasi, atau pekerjaan yang tidak bisa memberikan kepuasan pribadi.
Akibat merasa kurang dihargai, karyawan bisa kehilangan motivasi atau bahkan meninggalkan pekerjaan yang dijalani.
4. Hubungan Sosial yang Buruk
Lingkungan kerja yang tidak suportif juga bisa menjadi pemicu burnout. Hubungan sosial yang kurang bahkan buruk bisa memberikan tekanan pada kondisi mental karyawan. Saat hubungan dengan rekan kerja atau atasan memburuk, rasa ‘memiliki’ terhadap tempat kerja juga berkurang.
Koneksi sosial yang baik dengan rasa kebersamaan yang kuat menjadi faktor penting untuk menjaga mental karyawan dari potensi burnout.
5. Lingkungan Kerja yang Tidak Adil
Ketidakadilan di tempat kerja, baik pembagian tugas, peluang, hingga perlakuan dari atasan bisa memicu stres berkepanjangan. Rasa tidak dihargai dan diperlakukan tidak adil bisa mengikis rasa percaya diri karyawan.
Sejumlah studi bahkan menunjukkan bahwa persepsi ketidakadilan di tempat kerja berkaitan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan.
6. Pekerjaan Bertentangan dengan Nilai Pribadi
Burnout juga bisa terjadi saat nilai pribadi seseorang bertentangan dengan budaya atau pekerjaan di tempat kerja. Misalnya, ketika seseorang merasa harus mengorbankan prinsip untuk memenuhi tuntutan pekerjaan.
Jika dibiarkan, kondisi ini bisa membuat harga diri karyawan jatuh dan mempercepat kelelahan secara emosional.
Beberapa pemicu ini kemudian harus diperhatikan karena burnout bisa mempengaruhi kehidupan pribadi, hubungan sosial, hingga kesejahteraan mental.

3 hours ago
2
















































