Jakarta -
Siapa yang masih ingat fenomena Keong Racun Jauh sebelum era TikTok dan tren viral seperti sekarang, dua remaja bernama Sinta dan Jojo pernah menjadi perbincangan nasional berkat video lipsync sederhana yang mereka unggah ke internet pada tahun 2010.
Tak banyak yang tahu, di balik popularitas mendadak itu, Sinta dan Jojo justru sempat panik ketika mengetahui video mereka ditonton banyak orang.
Dalam program FYP, keduanya mengenang bagaimana awal mula video legendaris tersebut dibuat. Saat itu, mereka sebenarnya hanya ingin membagikan video ke Facebook.
"Sebenarnya dari dulu tuh di Facebook dulu," kata Sinta.
Namun karena mengalami kendala saat mengunggah video ke Facebook, seorang teman memberikan saran agar mereka menggunakan YouTube terlebih dahulu.
"Terus karena gagal upload, kata teman aku, 'kalau cuma mau ambil linknya, itu aja bikin YouTube. Ambil link-nya, masukin Facebook'," ujar Sinta menirukan ucapan temannya.
Tanpa memahami bagaimana platform YouTube bekerja, mereka pun merekam video lipsync lagu 'Keong Racun' dan langsung mengunggahnya.
"Dengan pedenya, tanpa tahu apa itu YouTube, langsung bikin, langsung upload," ungkap Sinta sambil tertawa.
Tak disangka, hanya dalam waktu satu malam video tersebut langsung menyebar luas dan menjadi pembicaraan banyak orang.
"Besoknya langsung boom, langsung besok banget," lanjutnya.
Alih-alih senang, reaksi pertama yang muncul justru rasa kaget dan panik. Sinta mengaku langsung menghapus video tersebut setelah mengetahui jumlah penontonnya melonjak drastis.
"Aku shick, shack, shock, langsung dihapus," kata Sinta.
Menurutnya, saat itu belum ada istilah viral yang populer seperti sekarang. Karena itulah mereka bingung menghadapi perhatian publik yang datang secara tiba-tiba.
"Ini harus kumaha? Hapus, hapus," kenangnya.
Sayangnya, keputusan menghapus video ternyata tidak menghentikan penyebaran konten tersebut. Video 'Keong Racun' sudah lebih dulu diunduh dan diunggah ulang oleh banyak orang.
"(Ternyata) besoknya udah ada yang re-upload lagi," ujarnya.
Popularitas besar yang mereka dapatkan ternyata juga diiringi komentar negatif. Pada masa itu, istilah viral belum umum digunakan. Orang-orang lebih sering melabeli konten yang dianggap unik atau berlebihan dengan sebutan alay.
"Karena saking enggak ada yang viral-viral, dulu enggak ada kan?," kata Sinta.
"(Yang ngomong negatif) ada, karena dulu viral itu belum kayak sekarang. Dulu disebutnya alay," timpal Jojo.
Sinta masih mengingat betul bagaimana dirinya pernah mendengar langsung komentar tersebut dari orang asing.
"Kita naik eskalator, 'itu, itu, cewek yang alay itu'," kenang Sinta.
"Di sini banget," lanjutnya sambil menunjuk telinga. "Aku kayak, 'apa sih? Kenapa harus aku ya Allah.'" ujarnya.
Meski sempat membuat mereka tertekan, video 'Keong Racun' akhirnya menjadi salah satu fenomena internet paling ikonik di Indonesia. Pada saat itu, konten lipsync belum sebanyak sekarang sehingga aksi sederhana Sinta dan Jojo berhasil menarik perhatian masyarakat luas.
Tak hanya membuat nama mereka dikenal publik, viralnya video tersebut juga ikut mengangkat popularitas lagu 'Keong Racun' ciptaan Buy Akur atau Subur Tahroni. Lagu yang sebelumnya lebih dikenal di daerah Bandung itu kemudian menjadi hit nasional dan diputar di berbagai media.
Hingga kini, lebih dari satu dekade berlalu, kisah Sinta dan Jojo masih sering dikenang sebagai salah satu momen bersejarah yang menandai awal budaya viral di Indonesia.
(yoa/fik)
Loading ...

3 hours ago
1
















































