Jakarta -
Di tengah euforia perayaan 25 tahun trilogi The Lord of the Rings, Viggo Mortensen mengungkap satu adegan yang paling membekas baginya sepanjang saga legendaris tersebut.
Menariknya, bukan adegan perang besar atau visual epik Middle-earth, melainkan momen emosional sederhana antara dua karakter utama.
Mortensen, yang memerankan Aragorn, menyebut adegan kematian Boromir sebagai favoritnya dari seluruh trilogi The Lord of the Rings.
Momen itu mempertemukannya secara intens dengan karakter Boromir, yang diperankan oleh Sean Bean, di film pertama The Fellowship of the Ring (2001).
Pengakuan tersebut disampaikan Mortensen saat ia reuni dengan Sean Bean dalam edisi spesial majalah Empire edisi Januari 2026, yang secara khusus dibuat untuk merayakan 25 tahun waralaba The Lord of the Rings.
Keduanya mengenang proses syuting dan membahas salah satu adegan paling ikonik dalam sejarah film fantasi.
"Adegan itu sangat indah. Tidak ada efek khusus, tidak ada monster khayalan," ujar Mortensen.
"Hanya dua karakter dengan hubungan yang rumit, lalu semuanya berpuncak dalam satu momen yang sangat manusiawi," sambungnya.
Adegan yang dimaksud memperlihatkan Boromir membela Merry dan Pippin dari serangan Orc, hingga akhirnya terkena beberapa anak panah.
Dalam kondisi sekarat, Boromir mengakui Aragorn sebagai "saudaraku, kaptenku, rajaku".
Dialog itu yang hingga kini masih dianggap Mortensen sebagai salah satu momen paling emosional dalam trilogi tersebut.
Menariknya, adegan ini nyaris dibuat jauh lebih rumit secara teknis. Mortensen mengungkap bahwa tim produksi sempat kebingungan soal bagaimana menampilkan panah-panah Orc yang mengenai Boromir.
Namun, Sean Bean justru mengusulkan pendekatan sederhana. Ia meminta agar panah ditancapkan satu per satu, lalu dirinya akan bereaksi secara natural saat kamera merekam.
"Aku bilang, 'Biarkan aku coba sesuatu. Saat kalian bilang aksi, aku akan melakukannya,'" kenang Bean sambil tertawa.
The Lord of the Rings/ Foto: Instagram
Hasilnya justru membuat tim produksi terpukau dan memutuskan mempertahankan pendekatan tersebut.
Dari sekian banyak adegan besar dalam trilogi-mulai dari pertempuran Helm's Deep hingga klimaks di Return of the King, Mortensen mengaku kematian Boromir adalah yang paling melekat di hatinya selama lebih dari dua dekade.
"Tanpa bermaksud mengecilkan bagian lain, mungkin ini adegan favorit saya di seluruh trilogi," kata Mortensen.
Menurutnya, kekuatan adegan tersebut terletak pada konflik personal yang akhirnya mencair.
Sean Bean pun sepakat bahwa pengalaman syuting The Fellowship of the Ring adalah sesuatu yang tak tergantikan dalam hidupnya.
Ia menyebut proses tersebut sebagai petualangan sesungguhnya-baik di dalam cerita maupun di balik layar.
Waralaba The Lord of the Rings sendiri resmi merayakan 25 tahun sejak penayangan film pertamanya pada Desember 2001, dan hingga kini tetap dianggap sebagai salah satu adaptasi sastra paling sukses dalam sejarah perfilman.
Bagi Viggo Mortensen, di balik dunia fantasi raksasa dan teknologi sinema mutakhir, justru momen paling sederhana yang bertahan paling lama di ingatan.
(ikh/ikh)

1 hour ago
2
















































