Deretan Buku Terlarang yang Ada di Perpustakaan Manifesto Milik Dua Lipa

12 hours ago 6

Jakarta -

Penyanyi pop dunia Dua Lipa mendirikan perpustakaan bernama Manifesto di Porto, Portugal, sebagai kolaborasi bersama klub buku Service95.

Perpustakaan ini mengkurasi 100 buku yang pernah dilarang, disensor, atau dianggap kontroversial di berbagai negara.

Koleksinya dibagi ke dalam empat kategori utama, yakni Power, Control, Voice, dan Memory.

Meski daftar lengkap 100 buku belum dipublikasikan, sejauh ini sudah ada 18 judul yang diungkap kepada publik.


Berikut daftar buku tersebut beserta alasan mengapa karya-karya itu dianggap kontroversial.

1. The Second Sex karya Simone de Beauvoir

Buku yang pertama kali terbit pada 1949 ini dianggap sebagai salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah feminisme modern. Simone de Beauvoir membahas bagaimana perempuan selama berabad-abad diposisikan sebagai "yang lain" dalam masyarakat patriarki. Gagasannya menantang norma sosial, agama, dan budaya yang membatasi peran perempuan. Karena dianggap bertentangan dengan ajaran moral dan keagamaan pada masanya, buku ini pernah dimasukkan ke dalam daftar buku terlarang oleh Vatikan.

2. Felon karya Reginald Dwayne Betts

Kumpulan puisi ini lahir dari pengalaman pribadi Betts yang pernah dipenjara selama hampir sembilan tahun saat masih remaja. Melalui puisinya, ia menggambarkan kehidupan mantan narapidana, diskriminasi rasial, serta sulitnya memulai hidup baru setelah bebas. Buku ini menjadi kritik tajam terhadap sistem hukum dan penjara di Amerika Serikat.

3. Free: Coming of Age at the End of History karya Lea Ypi

Lea Ypi menceritakan masa kecilnya ketika Albania beralih dari rezim komunis menuju demokrasi. Alih-alih hanya menggambarkan kebebasan sebagai sesuatu yang mutlak, buku ini mempertanyakan apakah perubahan politik benar-benar membuat masyarakat lebih bebas. Memoar ini banyak dipuji karena menawarkan sudut pandang yang kompleks tentang kebebasan, ideologi, dan kekuasaan.

4. One Day karya Omar El Akkad

Novel ini mengeksplorasi dampak perang, konflik internasional, dan krisis kemanusiaan terhadap kehidupan manusia biasa. Omar El Akkad menyoroti bagaimana keputusan politik para penguasa sering kali membawa penderitaan bagi masyarakat sipil.

5. Everyone Will Have Always Been Against This

Kumpulan esai dari berbagai penulis ini mengulas bagaimana kekuasaan bekerja melalui propaganda, pembungkaman kritik, dan manipulasi opini publik. Tema utamanya adalah pentingnya mempertanyakan otoritas dan menjaga ruang bagi perbedaan pendapat.

6. 1984 karya George Orwell

Novel distopia yang terbit pada 1949 ini mengisahkan Winston Smith yang hidup di bawah rezim totaliter dengan pengawasan ketat melalui sosok Big Brother. Pemerintah mengontrol sejarah, bahasa, bahkan cara berpikir masyarakat. Istilah seperti "Big Brother", "Thought Police", dan "doublethink" yang berasal dari novel ini kini menjadi simbol pengawasan negara dan manipulasi informasi. Buku ini pernah dilarang di beberapa negara karena dianggap mengandung kritik politik yang sensitif

7. The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood

Novel ini berlatar negara fiksi Gilead, tempat perempuan kehilangan hampir seluruh haknya dan dipaksa menjadi alat reproduksi. Buku ini menjadi simbol perjuangan hak perempuan, tetapi juga sering dilarang di sekolah karena memuat kekerasan seksual, bahasa kasar, dan kritik terhadap ekstremisme agama.

8. The Trial karya Franz Kafka

Tokoh utamanya, Josef K., ditangkap tanpa pernah diberi tahu kesalahannya. Ia kemudian terjebak dalam sistem hukum yang rumit, tidak masuk akal, dan mustahil dilawan. Novel ini menjadi metafora tentang birokrasi yang menindas dan hilangnya hak individu ketika negara memiliki kekuasaan yang terlalu besar.

9. The Memory Police karya Yoko Ogawa

Ceritanya berlangsung di sebuah pulau tempat berbagai benda perlahan "menghilang". Ketika suatu benda dihapus, masyarakat dipaksa melupakan keberadaannya. Polisi Ingatan bertugas menghukum siapa pun yang masih mengingat masa lalu. Novel ini dipandang sebagai alegori tentang sensor, propaganda, dan penghapusan sejarah oleh negara.

10. Ai Weiwei tentang Sensor karya Ai Weiwei

Buku ini memuat pemikiran Ai Weiwei mengenai kebebasan berekspresi, pengawasan pemerintah, dan penyensoran di Tiongkok. Pengalamannya sebagai seniman sekaligus aktivis membuat buku ini menjadi simbol perlawanan terhadap pembatasan kebebasan berbicara

11. The Color Purple karya Alice Walker

Novel pemenang Pulitzer Prize ini mengisahkan kehidupan perempuan kulit hitam di Amerika Serikat pada awal abad ke-20. Ceritanya mengangkat kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, rasisme, dan perjuangan menemukan jati diri. Karena tema-temanya dianggap sensitif, buku ini beberapa kali dilarang di sekolah.

12. The Satanic Verses karya Salman Rushdie

Novel yang terbit pada 1988 ini menjadi salah satu buku paling kontroversial di dunia. Sejumlah pihak menganggap isinya menghina Islam sehingga buku tersebut dilarang di berbagai negara. Kontroversi itu bahkan memicu fatwa yang menyerukan pembunuhan Salman Rushdie dan membuatnya hidup dalam perlindungan selama bertahun-tahun.

13. On Earth We're Briefly Gorgeous karya Ocean Vuong

Ditulis dalam bentuk surat dari seorang anak kepada ibunya yang buta huruf, novel ini membahas identitas queer, trauma keluarga, perang Vietnam, hingga pengalaman hidup sebagai imigran di Amerika Serikat. Gaya bahasanya puitis, tetapi tema LGBTQ+ membuat buku ini sempat dipersoalkan di sejumlah sekolah.

14. My Pen Is the Wing of a Bird

Antologi ini menghimpun cerita pendek karya perempuan Afghanistan yang menulis tentang kehidupan mereka di tengah perang, kemiskinan, dan penindasan. Buku ini menjadi simbol keberanian perempuan yang tetap bersuara meski menghadapi ancaman dari kelompok ekstremis

15. Pachinko karya Min Jin Lee

Novel epik ini mengikuti perjalanan empat generasi keluarga Korea yang hidup sebagai imigran di Jepang. Ceritanya memperlihatkan diskriminasi, kemiskinan, dan perjuangan mempertahankan identitas di tengah tekanan sosial. Buku ini banyak dipuji karena mengangkat sejarah yang jarang dibahas.

16. Patriot karya Alexei Navalny

Memoar ini berisi kisah perjuangan Navalny melawan korupsi dan otoritarianisme di Rusia. Buku tersebut menjadi bentuk perlawanan terhadap narasi resmi pemerintah dan dianggap mewakili suara oposisi politik.

17. The Unbearable Lightness of Being karya Milan Kundera

Novel ini berlatar invasi Uni Soviet ke Cekoslowakia pada 1968. Selain mengisahkan hubungan antarmanusia, Kundera mengkritik represi politik dan hilangnya kebebasan di bawah rezim komunis. Karena itu, buku ini sempat dilarang di negara asalnya.

18. The Books of Jacob karya Olga Tokarczuk

Novel sejarah setebal lebih dari 900 halaman ini mengangkat kehidupan Jacob Frank, tokoh agama kontroversial abad ke-18. Olga Tokarczuk menghadirkan sudut pandang yang berbeda terhadap sejarah Polandia dan Eropa Timur, sehingga memicu perdebatan karena dianggap menggugat narasi sejarah nasional.

19. To Kill a Mockingbird karya Harper Lee

Novel pemenang Pulitzer Prize ini menceritakan pengacara Atticus Finch yang membela pria kulit hitam yang dituduh memperkosa perempuan kulit putih di Amerika Selatan. Meski dipuji sebagai karya antirasisme, penggunaan kata-kata bernada rasial dan penggambaran diskriminasi membuat buku ini berulang kali dilarang atau dibatasi di sejumlah sekolah.

20. The Catcher in the Rye karya J. D. Salinger

Novel ini mengikuti kisah Holden Caulfield, remaja yang merasa terasing dari lingkungan sekitarnya. Tema pemberontakan, depresi, seksualitas, serta penggunaan bahasa yang vulgar membuat buku ini menjadi salah satu novel yang paling sering disensor di Amerika Serikat, meski juga diakui sebagai karya klasik sastra dunia.

Secara keseluruhan, perpustakaan Manifesto menghadirkan 100 buku yang pernah mengalami pelarangan atau penyensoran. Hingga kini, 20 judul telah dipublikasikan, sementara 80 buku lainnya masih belum diumumkan kepada publik.

(ikh/ikh)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |