Jakarta -
Kondisi psikologis Uffridatun Nitami alias Tami diungkap kuasa hukumnya setelah mengungkapkan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh sang suami, Evan Marvino.
Saat pertama kali berkonsultasi dengan pengacara Ana Sofya Yuking, Tami disebut berada dalam kondisi psikologis yang tidak stabil.
Ia mengalami badai emosi yang mendalam, sebuah trauma yang umum dirasakan oleh seseorang yang menjadi korban KDRT.
"Kalau Tami selayaknya perempuan-perempuan korban KDRT, pasti dia terpukul, pasti sedih, pasti bingung. Pasti ada marah, ada sedih, ada kebingungan," kata Ana Sofya Yuking saat ditemui di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, seperti dilihat dari detikcom pada Kamis (18/6).
Ana menambahkan bahwa keberanian Tami dalam mengungkapkan kondisi runah tangganya ke publik bukan terjadi secara mendadak.
Menurutnya, Tami sudah lama mengalami kekerasan dalam runah tangga hingga akhirnya betani untuk mengungkapnya ke ranah publik.
"Jadi kalau perempuan, seorang istri, seorang perempuan, sampai dia berani speak up ke publik, menyatakan ada perbuatan KDRT di rumah tangganya, itu pasti bukan sesuatu yang baru. Bukan sesuatu yang serta-merta baru terjadi," tambahnya.
"Biasanya rata-rata klien kita tuh sudah mengalami itu berbulan-bulan, bertahun-tahun, dan itu berulang. Bahkan mengalami eskalasi. Dari yang tadinya cuma cubit atau tempeleng sedikit, pukul tangan, tempeleng kepala, wajah segala macam, bisa jedot ke dinding, macam-macam. Dan saya bisa memahami bahwa Tami kemarin datang itu dalam keadaan sedih," bebernya.
Ana menambahkan bahwa mayoritas korban KDRT baru berani mencari bantuan hukum setelah terjebak dalam lingkaran kekerasan yang lama dan berulang.
Akibatnya, mereka kerap berada dalam kondisi emosional yang sangat tidak stabil saat pertama kali datang meminta perlindungan.
"Di antara kebingungan, kesedihan, kemarahan itu dia juga mengalami kelabilan secara emosional. Karena satu, dia tidak percaya. Lalu kemudian kalau saya bisa keluar dari keadaan ini bagaimana caranya? Nah itulah yang dia kemarin datang nanya ke kita para advokat. Ini secara hukum seperti apa statusnya, dan kalau saya harus mengambil upaya-upaya hukum apa saja. Ya kita berikan edukasi," terangnya.
Demi memulihkan trauma tersebut, Ana menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya fokus pada jalur hukum. Ia berencana merekomendasikan bantuan psikologis profesional untuk mendampingi Tami.
"Nanti biasanya kita punya rekanan psikolog, nanti kita akan rekomendasikan supaya bisa membantu pulih dengan cepat. Karena, tidak mudah bagi perempuan mengalami peristiwa-peristiwa yang menyakitkan dalam rumah tangganya," imbuhnya.
(arm/agn)
Loading ...

10 hours ago
6
















































