Jakarta -
Golongan darah selama ini dikenal sebagai informasi penting yang dibutuhkan saat transfusi darah atau transplantasi organ. Namun, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa golongan darah juga dapat berkaitan dengan risiko beberapa penyakit, termasuk stroke.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology pada 2022 menemukan bahwa pemilik varian golongan darah tertentu memiliki kemungkinan lebih besar mengalami stroke di usia muda. Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tidak perlu disikapi dengan rasa takut berlebihan.
Golongan Darah yang Diduga Memiliki Risiko Lebih Tinggi
Secara umum, manusia memiliki empat golongan darah utama, yaitu A, B, AB, dan O. Masing-masing golongan juga dibagi lagi berdasarkan faktor Rhesus (Rh) menjadi positif (+) dan negatif (-), sehingga dikenal delapan jenis golongan darah, yakni A+, A-, B+, B-, AB+, AB-, O+, dan O-.
Di balik klasifikasi tersebut, ternyata masih ada variasi genetik yang lebih spesifik. Salah satunya adalah subkelompok A1 dan O1 yang menjadi fokus penelitian terbaru.
Penelitian yang melibatkan sekitar 17.000 pasien stroke dan hampir 600.000 orang tanpa riwayat stroke menemukan bahwa pemilik varian genetik A1 memiliki risiko sekitar 16 persen lebih tinggi mengalami stroke sebelum usia 60 tahun dibandingkan golongan darah lainnya.
Sebaliknya, mereka yang memiliki varian O1 justru memiliki risiko sekitar 12 persen lebih rendah mengalami stroke dini.
"Temuan penting dan mengejutkan ini menambah pemahaman kita mengenai faktor risiko stroke yang tidak dapat diubah, termasuk golongan darah seseorang," ujar ilmuwan sekaligus dokter dari University of Maryland, Mark Gladwin, dikutip dari Science Alert.
Penyebabnya Masih Terus Diteliti
Penulis senior penelitian sekaligus ahli neurologi vaskular dari University of Maryland, Steven Kittner, mengatakan kasus stroke pada usia muda terus mengalami peningkatan dan masih membutuhkan banyak penelitian.
"Orang yang mengalami stroke di usia muda memiliki risiko kematian lebih tinggi. Mereka yang selamat juga berpotensi hidup dengan disabilitas selama puluhan tahun. Sayangnya, penyebab stroke pada usia muda masih belum banyak diteliti," jelasnya.
Melalui analisis genom, tim peneliti menemukan bahwa salah satu lokasi gen yang berhubungan dengan stroke dini adalah gen ABO yang menentukan golongan darah seseorang.
Meski demikian, Kittner menegaskan bahwa peningkatan risiko tersebut relatif kecil sehingga masyarakat tidak perlu panik atau melakukan pemeriksaan khusus hanya karena memiliki golongan darah tertentu.
"Kami masih belum mengetahui secara pasti mengapa golongan darah A meningkatkan risiko stroke," kata Kittner.
"Namun, kemungkinan besar hal ini berkaitan dengan faktor pembekuan darah, seperti trombosit, sel yang melapisi pembuluh darah, serta berbagai protein dalam sirkulasi darah yang berperan dalam pembentukan bekuan darah," lanjutnya.
Golongan Darah B Juga Perlu Diwaspadai
Selain golongan darah A, penelitian tersebut juga menemukan bahwa pemilik golongan darah B memiliki kemungkinan sekitar 11 persen lebih tinggi mengalami stroke dibandingkan golongan darah lainnya, tanpa memandang usia.
Sejumlah studi sebelumnya juga mengaitkan gen ABO dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular lain, seperti serangan jantung, pengapuran pembuluh darah koroner, hingga trombosis vena atau pembentukan bekuan darah di pembuluh vena.
Bukan Satu-satunya Faktor Risiko
Meski hasil penelitian ini menarik, para ahli mengingatkan bahwa golongan darah bukanlah penentu utama seseorang akan mengalami stroke.
Usia, tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, kebiasaan merokok, obesitas, kurang aktivitas fisik, hingga pola makan tetap menjadi faktor yang jauh lebih berpengaruh terhadap risiko stroke.
Penelitian ini juga memiliki keterbatasan karena sebagian besar pesertanya berasal dari Amerika Utara, Eropa, Jepang, Pakistan, dan Australia, dengan sekitar 35 persen berasal dari kelompok non-Eropa. Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan populasi yang lebih beragam.
Menariknya, hubungan antara golongan darah A dan stroke tidak lagi terlihat signifikan pada kelompok usia di atas 60 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme stroke pada usia muda kemungkinan berbeda dengan stroke pada usia lanjut.
Para peneliti menduga stroke pada orang muda lebih sering dipicu oleh gangguan pembentukan bekuan darah, sedangkan pada lansia lebih banyak disebabkan oleh penumpukan plak lemak di pembuluh darah atau aterosklerosis.
Kenali Gejala Stroke Sejak Dini
Stroke merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika aliran darah ke otak terhenti akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan sel otak dalam waktu singkat dan menimbulkan komplikasi serius.
Neurolog dr. Ricky Gusanto Kurniawan, SpN, SubspNIIO (K), FINR menjelaskan bahwa stroke terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu stroke iskemik akibat penyumbatan pembuluh darah dan stroke hemoragik yang terjadi karena pecahnya pembuluh darah di otak.
"Kalau jaringan otak sekitarnya ketekan (akibat perdarahan-red) ya apa yang terjadi? Bengkak, tambah bengkak jaringan otaknya. Ketika darahnya menekan batang otak, ya sudah, napasnya terganggu, kemudian pasiennya nggak sadar, bahkan kekuatan ototnya semua, ya hilang," jelas dr. Ricky.
Ia juga mengingatkan bahwa stroke sering muncul secara tiba-tiba. Pada stroke hemoragik, gejala yang umum dirasakan adalah sakit kepala hebat yang disertai mual, muntah, hingga penurunan kesadaran.
"Stroke itu ngagetin banget. Bisa kayak 'orang tadi lagi makan kok, gak apa-apa kok lagi ngobrol sama saya, tiba-tiba ibu nyeri kepala hebat terus nggak sadar Dok'. Itu kan mendadak banget gitu kan ya," ungkapnya.
Karena itu, menjaga tekanan darah, mengontrol gula darah, berolahraga secara rutin, mengonsumsi makanan bergizi, serta segera memeriksakan diri saat muncul gejala menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko stroke, apa pun golongan darah yang dimiliki.
(yoa/yoa)
Loading ...

4 hours ago
3
















































