Jakarta -
Indonesia tengah berduka atas tragedi kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL Commuter Line Cikarang pada Senin, 27 April 2026 malam sekitar pukul 20.56 WIB.
Gerbong wanita di bagian belakang KRL dihantam oleh KA Argo Bromo Anggrek. Atas kejadian tersebut, kebanyakan korban mengalami luka berjenis kelamin perempuan. Seluruh korban meninggal dunia bahkan dikonfirmasi perempuan.
Kabasarnas Marsekal Madya Muhammad Syafii membenarkan hal itu. Ia menyebut korban tewas dari kecelakaan ini merupakan perempuan dewasa. Seluruh korban tewas juga sudah diserahkan ke rumah sakit untuk diproses identifikasi.
"Saya melihatnya tidak ada (korban anak), semuanya sudah masuk kategori (perempuan) dewasa," ucapnya.
Atas kejadian ini Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi juga memberikan usulan untuk memindahkan gerbong wanita menjadi ke tengah. Sehingga bagian gerbong depan dan belakang kereta adalah gerbong campuran atau laki-laki dan perempuan.
"Kalau dulu pertimbangannya gerbong wanita ditaruh paling depan dan paling belakang supaya tidak jadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," ucap Arifah di RSUD Bekasi, Jawa Barat.
"Jadi yang di ujung, atau paling depan dan belakang laki-laki," lanjutnya.
Lalu apa alasan gerbong wanita pada KRL Commuter Line berada di bagian depan dan belakang yang menjadi posisi rawan jika terjadi kecelakaan?
Kereta Khusus Wanita (KKW) atau yang gerbong wanita pada KRL sudah diresmikan sejak 2010 silam oleh Kementerian Perhubungan. Pembuatan gerbong ini dalam rangka memisahkan tempat penumpang laki-laki dan perempuan dengan harapan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan untuk para wanita.
Di tiap rangkaian KRL, KKW memiliki dua gerbong dengan stiker khusus berwarna pink yang berada di bagian paling depan dan belakang kereta.
Tujuan utama dari gerbong wanita, yaitu untuk mencegah pelecehan seksual yang hingga kini masih sering terjadi di transportasi umum. Kehadiran KKW ini memberikan ruang aman tersendiri bagi wanita dari pelecehan seksual dan tindak kriminal di transportasi umum.
Penempatan gerbong wanita yang berada di area rawan atau pada depan dan belakang untuk memudahkan penumpang wanita posisi atau letak gerbong khusus tersebut berada ketika kereta datang. Para penumpang wanita yang ingin masuk ke dalam KKW pun tidak kebingungan dengan penempatan gerbong yang berada paling depan dan belakang.
Selain itu, penempatan gerbong tersebut juga memudahkan penumpang wanita untuk masuk dan keluar di beberapa stasiun tujuannya. Namun, setelah terjadi beberapa kali insiden kecelakaan KRL, posisi gerbong wanita itu menjadi sorotan karena menjadi 'bumper' KRL. Posisi gerbong wanita di KRL itu menjadi titik rawan jika terjadi kecelakaan.
(agn)
Loading ...

3 hours ago
4
















































