Baru Menikah 4 Bulan, Petinggi Brand Kecantikan Ini Meninggal Usai Suntik Filler

6 hours ago 2

Jakarta -

Kabar duka datang dari dunia industri kecantikan internasional. Kendal Ascher, seorang eksekutif senior yang menjabat sebagai Wakil Presiden di perusahaan kecantikan ternama Estée Lauder, meninggal dunia setelah mengalami komplikasi serius yang diduga berkaitan dengan prosedur suntik filler.

Perempuan berusia 56 tahun itu mengembuskan napas terakhir pada 25 Februari lalu di apartemennya di New York, Amerika Serikat. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekat, terlebih karena ia baru menikah sekitar empat bulan sebelum kejadian tersebut.

Menurut laporan pemeriksa medis, Ascher meninggal akibat gagal napas akut yang dipicu emboli paru terkait benda asing setelah menjalani prosedur filler kosmetik.

Sebelum tak sadarkan diri, Ascher sempat mengeluhkan tubuhnya terasa lemas dan pusing. Kondisinya kemudian memburuk dengan sangat cepat hingga akhirnya meninggal dalam pelukan sang suami.


"Semuanya terjadi dalam waktu delapan detik," kenang suaminya yang baru menikah dengannya beberapa bulan terakhir.

Laporan resmi yang disampaikan kepada keluarga dan kerabat pada akhir pekan lalu menyebut kematian Ascher dikategorikan sebagai kecelakaan.

Emboli paru terjadi ketika ada benda atau material yang menyumbat pembuluh darah di paru-paru. Dalam kasus ini, material tersebut diduga berasal dari zat filler yang masuk ke dalam aliran darah.

Akibat sumbatan tersebut, aliran darah menuju paru-paru terganggu sehingga tubuh kekurangan oksigen. Kondisi ini dapat berkembang sangat cepat dan berisiko mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.

Dokter kulit kosmetik sekaligus anggota fakultas Allergan Medical Institute, Dr. Kenneth Mark, yang tidak terlibat dalam perawatan Ascher, menjelaskan bahwa salah satu kemungkinan penyebabnya adalah filler yang secara tidak sengaja masuk ke pembuluh darah saat proses penyuntikan.

Menurutnya, kejadian seperti ini tergolong sangat jarang terjadi pada prosedur filler wajah.

"Hal ini sangat jarang terjadi pada filler wajah dan lebih umum dikaitkan dengan injeksi lemak dalam volume besar di bokong," kata Mark kepada The Post.

Ia juga mencontohkan kasus seorang perempuan berusia 26 tahun yang meninggal dunia sekitar 18 jam setelah menjalani prosedur filler pada area bokong akibat komplikasi serupa.

Filler kosmetik merupakan prosedur yang cukup populer untuk menambah volume pada area wajah seperti pipi dan bibir, sekaligus menyamarkan garis halus atau kerutan. Bahan yang digunakan biasanya berupa asam hialuronat atau lemak yang diambil dari bagian tubuh lain.

Menurut Kepala Bedah Plastik North Shore University Hospital dan LIJ Medical Center, Dr. Lyle Leipziger, prosedur filler pada dasarnya tergolong aman apabila dilakukan oleh tenaga medis yang memiliki sertifikasi dan pengalaman memadai.

"Filler wajah dermal dianggap sangat aman selama dilakukan oleh ahli bedah plastik atau dokter kulit bersertifikat dengan pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang anatomi wajah," jelas Leipziger.

Setelah menjalani filler, beberapa efek samping ringan biasanya dapat muncul, seperti bengkak, memar, kemerahan, atau rasa nyeri pada area suntikan.

"Bahkan jika seseorang hanya ditusuk jarum, tanpa suntikan filler, mereka bisa mengalami pembengkakan reaktif," kata Mark.

"Saat filler disuntikkan, pembengkakan yang dapat berlangsung 24 hingga 72 jam adalah hal yang normal," lanjutnya.

Leipziger juga menambahkan bahwa kemerahan dan rasa tidak nyaman di lokasi suntikan termasuk reaksi yang umum terjadi setelah prosedur.

Meski jarang, para ahli mengingatkan adanya risiko serius yang dikenal sebagai oklusi vaskular. Kondisi ini terjadi ketika filler masuk ke pembuluh darah dan menghambat aliran darah ke jaringan tubuh.

Komplikasi tersebut dapat menyebabkan rasa sakit hebat, perubahan warna kulit, kerusakan jaringan, hingga masalah yang lebih serius seperti kebutaan atau emboli paru.

Menurut Leipziger, jika kondisi itu terdeteksi lebih awal, dokter dapat memberikan suntikan enzim hyaluronidase untuk melarutkan filler yang menyumbat pembuluh darah.

Sementara itu, Mark mengingatkan bahwa jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa sangat berbahaya.

Kasus yang menimpa Kendal Ascher kembali menjadi pengingat bahwa prosedur kecantikan, sekecil apa pun, tetap memiliki risiko medis.

Karena itu, para ahli menekankan pentingnya memilih dokter yang berpengalaman dan memiliki sertifikasi resmi sebelum menjalani tindakan estetika.

"Terlalu banyak orang yang melakukan prosedur kosmetik termasuk suntikan tanpa pelatihan dan pengalaman yang memadai," kata Mark.

"Hal ini menyebabkan filler mendapatkan stigma buruk, tidak jarang karena filler yang salah dan terlalu banyak filler yang disuntikkan di tempat yang salah," imbuhnya.

Meski kasus seperti yang dialami Ascher sangat jarang terjadi, para dokter mengingatkan bahwa keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap prosedur kecantikan. Dengan memilih tenaga medis yang kompeten dan fasilitas yang terpercaya, risiko komplikasi serius dapat diminimalkan.

(yoa/and)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |