Makassartoday.com – Kalau kamu buka LinkedIn atau TikTok belakangan ini, kamu pasti sadar ada yang beda. Postingan pamer sertifikat kursus kembali menjamur, tapi judulnya aneh-aneh: “Copywriter yang Jago Data Science” atau “Desainer Interior yang Ahli Arsitektur AI”.
Selamat datang di era The Great Reskilling. Tren ini viral karena kesadaran kolektif bahwa mengandalkan satu keahlian saja sudah dianggap “berisiko” di tahun 2026.
Mengapa Topik Ini Viral?
AI Bukan Lagi Musuh, Tapi “Asisten Magang”: Netizen mulai sadar bahwa AI tidak mencuri pekerjaan, tapi orang yang paham AI-lah yang mengambil posisi tersebut. Konten yang membagikan cara “menjinakkan” AI terbaru sedang mendapat engagement tertinggi.
Lahirnya “Solopreneur” Baru: Banyak orang yang terkena dampak efisiensi perusahaan tahun lalu kini memilih membangun bisnis sendiri dengan bantuan teknologi. Hastag #OnePersonBusiness sedang sangat populer.
Krisis Identitas Karier: Banyak diskusi hangat (dan terkadang emosional) di X tentang “Lelahnya terus belajar” (Learning Fatigue). Ini menciptakan ruang bagi netizen untuk saling curhat dan memberi dukungan.
Strategi “Survival” yang Lagi Tren:
Berikut adalah 3 kombinasi skill yang disebut-sebut paling “tahan banting” dan sering dibagikan oleh para influencer karier:
Apa Kata Netizen?
“Dulu kuliah 4 tahun buat satu gelar, sekarang tiap 6 bulan harus ‘update OS’ otak sendiri supaya nggak ketinggalan zaman. Capek tapi seru!” — Salah satu komentar populer di diskusi LinkedIn.
Cara Kamu Mengikuti Tren Ini:
Jika kamu ingin membuat konten yang relevan, jangan hanya pamer hasil. Bagikan proses belajarmu (Learn with Me). Orang-orang di tahun 2026 lebih menghargai kejujuran tentang kesulitan belajar hal baru daripada sekadar hasil akhir yang terlihat sempurna.
Daftar Skill “Paling Mahal” di Tahun 2026
Berikut adalah kombinasi keahlian yang membuat seseorang menonjol di pasar kerja saat ini:
| Sektor | Keahlian Utama | Keahlian Tambahan (Viral) |
| Kreatif | Desain Grafis | Etika AI & Hak Cipta Digital |
| Pemasaran | Copywriting | Analisis Data Perilaku Manusia |
| Teknis | Coding | Psikologi Pengguna (UX Psychology) |
AI Orchestration (Dirigen AI)
Bukan lagi sekadar bisa menulis prompt sederhana, tapi kemampuan untuk menghubungkan berbagai alat AI (teks, gambar, video, dan data) menjadi satu alur kerja yang efisien. Orang yang bisa menghemat waktu kerja tim dari 8 jam menjadi 1 jam adalah “pemenangnya”.
Emotional Intelligence (EQ) & Human-Centric Communication
Saat mesin bisa menulis email yang sempurna, sentuhan empati manusia menjadi sangat langka. Kemampuan negosiasi, mediasi konflik, dan mendengarkan secara aktif adalah skill yang tidak bisa (belum bisa) digantikan oleh algoritma.
Data Storytelling (Bercerita dengan Data)
Data melimpah di mana-mana, tapi sedikit yang bisa mengubah angka-angka membosankan menjadi cerita yang menarik dan mudah dipahami untuk pengambilan keputusan bisnis.
Digital Ethics & AI Compliance
Seiring ketatnya aturan pemerintah soal privasi data, orang yang paham cara menggunakan teknologi secara etis dan legal sangat dicari oleh perusahaan besar agar mereka tidak terkena tuntutan hukum.
Critical Thinking & Fact-Checking
Di era deepfake dan banjir informasi, kemampuan untuk memverifikasi kebenaran dan berpikir kritis adalah “benteng” terakhir profesional. Ini adalah kemampuan untuk mempertanyakan: “Apakah hasil AI ini masuk akal?”


















































