Mengintip ‘Oase’ Zero Waste di Cluster Berlian Permai Manggala: Dari Kultur Jepang hingga Zakat Hijau

1 day ago 20

Makassartoday.com, Makassar – Di sudut Kecamatan Manggala, Kota Makassar, sebuah kawasan permukiman perlahan sedang membangun identitas barunya. Bukan sekadar tempat berteduh, wilayah ini bertransformasi menjadi lingkungan yang peduli pada masa depan bumi.

Kawasan itu adalah Cluster Berlian Permai (CBP), yang terletak di RT 4 RW 7, Kelurahan Bangkala. Di sana, riuh semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan bukan lagi slogan pemanis, melainkan sebuah gerakan kolektif yang konsisten dijalani warganya.

Gerakan ini berakar dari visi sang Ketua RT, Prof. Muhammad Zubair Muis Alie. Seorang akademisi yang bermimpi mewujudkan permukiman bersih, nyaman, sehat, tertata, bahkan bebas asap rokok. Inspirasi itu ia bawa pulang dari negeri sakura, Jepang, tempat ia menempuh pendidikan dulu. Di sana, ia menyaksikan bagaimana budaya hidup bersih dan disiplin menyatu dalam nadi kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Dari percikan semangat itulah, lahir Bank Sampah Unit (BSU) Nurul Ilmi—sebuah motor perubahan yang mengusung konsep Zero Waste (bebas sampah).

Periklanan

Ad imageAd image

Ketua Umum BSU Nurul Ilmi, Andi Nirma Naim, mengisahkan bahwa perjalanan ini bermula dari keresahan kolektif warga melihat persoalan sampah kota yang kian pelik.

“Kami melihat persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan mengandalkan petugas kebersihan. Harus ada perubahan perilaku dari warga,” ujar Andi Nirma, Kamis (11/6/2026).

Gerakan ini tak langsung besar. Awalnya, warga memulai dari hal-hal kecil seperti Kelompok Wanita Tani (KWT), perpustakaan lingkungan, hingga akhirnya fokus mengakar pada pengelolaan Bank Sampah sejak awal tahun 2025. Momentum itu dipakai untuk menyadarkan warga bahwa urusan sampah harus selesai dari sumbernya: rumah tangga.

Kolaborasi dan Konsep “Zakat Hijau”

Hebatnya, gerakan di CBP ini tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi secara apik. Gagasan lingkungan ini dikawinkan dengan konsep Masjid Peduli Lingkungan di Masjid Nurul Ilmi. Mulai dari desain bangunan hingga program kemasjidan diarahkan untuk pelestarian alam, termasuk penerapan konsep inovatif: Zakat Hijau.

Langkah demi langkah dirancang matang lewat roadmap bulanan dan tahunan. Melalui tim Agent of Change, warga didampingi secara telaten agar bisa memilah sampah secara mandiri dari dapur mereka sendiri.

“Progresnya bertahap, kami ingin semua warga mendapat pendampingan agar mampu memilah sampah sejak dari rumah,” tambah perempuan yang juga mengemban amanah sebagai bendahara Masjid Nurul Ilmi tersebut.

Ikhtiar warga CBP rupanya memantik simpati dan dukungan luas. Mulai dari pengembang perumahan, I Putu Dana, yang meminjamkan lahan dan menyokong pendanaan, hingga tokoh seperti Prof. Mashud, Andi Icha, Thalib, dan Nurhaji yang intens memberikan masukan strategis.

Dukungan sektor pemerintahan dari Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, DLH, DP2 Makassar, media lingkungan KlikHijau, hingga pegiat lingkungan Fadly Padi turut memperkuat barisan. Bahkan baru-baru ini, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyempatkan diri berkunjung langsung dan mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang tercipta di klaster ini.

Memutar Ekonomi Lewat Kompos dan Urban Farming

Bukan sekadar mengumpul sampah lalu menjualnya, BSU Nurul Ilmi melangkah lebih jauh dengan membangun ekosistem ekonomi sirkular. Saat ini, mereka tengah mengembangkan pusat pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos menggunakan metode dua unit teba (lubang organik).

Lokasinya sengaja didekatkan dengan kebun PKK dan KWT agar tercipta siklus yang utuh. Menariknya, pupuk kompos yang diproduksi nantinya tidak akan dibuang keluar, melainkan diserap sendiri oleh program pertanian perkotaan (urban farming) milik warga.

“Pengembangan urban farming, baik di lahan kosong, taman lingkungan, maupun pekarangan rumah warga, secara tidak langsung akan menjadi buyer (pembeli) utama untuk kompos yang kami produksi,” jelas Andi Nirma optimis.

Mereka ingin menciptakan pasar internal, sehingga perputaran ekonomi hijau ini tetap berputar di dalam kawasan klaster. Hanya sampah residu yang benar-benar tidak bisa diolah yang akan diteruskan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Bagi Andi Nirma dan warga CBP, tujuan akhir mereka bukan sekadar lingkungan yang resik dipandang mata. Lebih dari itu, ini adalah tentang edukasi dan pembentukan kultur baru.

“Kami ingin membuktikan bahwa lingkungan bersih bukan karena membayar petugas kebersihan lebih banyak, tetapi karena masyarakatnya memiliki kesadaran dan budaya hidup bersih,” pungkasnya menyudahi perbincangan.

Di tengah peliknya dinamika sampah perkotaan, warga Cluster Berlian Permai memilih jalan sunyi yang berdampak besar: berhenti mengeluh, lalu mulai bergerak dari rumah sendiri.

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |