Makassartoday.com, Jakarta — Pertengkaran dalam rumah tangga sering kali dianggap sebagai lampu kuning menuju perceraian. Namun, realitanya banyak pasangan suami istri (pasutri) yang tetap memilih bertahan dan hidup bersama meski hari-hari mereka diwarnai adu argumen.
Mengapa fenomena “benci tapi rindu” ini bisa terjadi?
Jawabannya ternyata melampaui sekadar alasan klasik seperti “demi anak.” Sejumlah riset akademik di bidang psikologi perkawinan mengungkap ada dinamika psikologis yang kompleks di balik keputusan pasutri untuk tidak berpisah.
Berikut adalah tiga alasan utama mengapa pasutri memilih bertahan meski sering bertengkar, ditinjau dari aspek akademis:
1. Adanya Constraint Commitment (Komitmen Hambatan)
Berdasarkan Teori Komitmen yang dikembangkan oleh psikolog Scott M. Stanley dan Howard J. Markman, komitmen dalam sebuah hubungan terbagi menjadi dua dimensi:
Dedication (Dedikasi): Keinginan intrinsik untuk bersama pasangan karena rasa cinta dan kepuasan hubungan.
Constraint Commitment (Hambatan): Faktor-faktor eksternal atau konsekuensi yang membuat sebuah pasangan merasa “terikat” dan sulit untuk pergi.
Saat sebuah pasangan sering bertengkar, level dedication mereka mungkin menurun drastis. Namun, mereka tetap bertahan karena constraint commitment yang sangat kuat.
Hambatan ini bisa berupa investasi finansial bersama, tekanan sosial/keluarga, hukum agama, hingga ketakutan akan status sosial pasca-bercerai.
Hubungan tetap utuh bukan karena masih manis, melainkan karena biaya emosional dan material untuk keluar dari hubungan tersebut dirasa terlalu mahal.
2. Konflik Dianggap sebagai Alat “Penyembuh” (Resolusi Masalah)
Tidak semua pertengkaran bersifat merusak. Sebuah studi longitudinal selama empat tahun oleh peneliti McNulty, O’Mara, dan Karney (2008) menemukan sudut pandang menarik tentang fungsi konflik.
Bagi sebagian pasangan, adu argumen yang intens adalah cara mereka mengekspresikan masalah secara langsung alih-alih memendamnya.
Pasangan yang memilih mengonfrontasi masalah (meski lewat pertengkaran) sering kali memiliki kepuasan jangka panjang yang lebih stabil dibanding pasangan yang memilih diam dan menggunakan strategi benevolent (berpura-pura semua baik-baik saja).
Menghindari konflik justru kerap membuat masalah menumpuk dan memperburuk kepuasan pernikahan di masa depan.
3. Jebakan Investmen Model dan Nilai Agama
Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory) dan Investment Model dari Caryl Rusbult menjelaskan bahwa manusia cenderung menimbang “untung-rugi” dalam hubungan. Pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun telah menanam banyak investasi—waktu, tenaga, memori, dan properti.
“Semakin besar investasi yang telah ditanamkan dalam sebuah hubungan, semakin tinggi kecenderungan individu untuk bertahan, bahkan ketika tingkat kepuasan harian mereka berada di titik rendah.”
Di Indonesia, faktor ini diperkuat oleh nilai religiusitas yang mengakar. Pernikahan dipandang sebagai institusi sakral (mitsaqan ghalizhan), sehingga mempertahankan ikatan tersebut dinilai sebagai bentuk ibadah dan ujian spiritual, terlepas dari dinamika konflik yang terjadi di dalamnya.
Kapan Pertengkaran Menjadi Bahaya?
Meskipun bertahan di tengah konflik adalah hal yang lumrah, aspek psikologi mengingatkan adanya batasan tegas. Jika pertengkaran sudah mengarah pada kekerasan fisik, agresi verbal yang ekstrem, atau manipulasi emosional, alasan bertahan karena “hambatan” justru bisa membahayakan kesehatan mental dan fisik masing-masing individu maupun anak-anak.
Pakar pernikahan menyarankan pasangan yang berada di fase ini untuk mencari bantuan profesional, seperti konselor pernikahan, guna mengubah pola komunikasi beracun menjadi diskusi yang lebih konstruktif.
Editor: Ibrahim


















































